Jumat, 27 Januari 2012

Novel: Tak berjudul part 3


Saat-saat Bahagia


“Selamat pagi Pak Kumis.” Sapa aku yang emang sudah lama nggak ngobrol-ngobrol sama Pak Kumis. Pak Kumis ini bukan nama aslinya, nama asli dari Pak Kumis adalah Pak Karyo. Dipanggil Pak Kumis karena kumis kesayangannya selalu bertengger di wajahnya. Walau Pak Kumis mempunyai muka yang galak tapi sebenarnya baik hati kok. Kalau nggak baik hati nggak mungkin dong sekarang aku sengaja nyapa Pak Kumis.
“Selamat pagi Mbak Icha. Kok pagi-pagi sudah berangkat Mbak?” Balas Pak Kumis.
“Hehehe. Ada urusan sama ketua jurnalis sebelum masuk kelas.” Jawabku sambil memperlihatkan senyum manisku.
“Mas Raihan ya Mbak?”
“Iya Pak.”
“Wah, sudah ada kemajuan ya Mbak?” Tanya Pak Kumis lagi.
“Hehehe. Nggak tahu nih Pak.” Aku malu-malu meong. Pak Kumis emang teman curhat yang enak. Pendengar setia dan kadang memberi nasihat-nasihat yang membuat aku jauh lebih baik.
“Mbak Icha pantes jadi pacarnya Mas Raihan. Mas Raihan ganteng, Mbak Icha manis.” Pujian Pak Kumis membuatku membumbung. Dan juga telah membuat wajahku merah kayak kepiting rebus.
“Maunya sih gitu Pak. Ohya pak, sudah jam segini nih. Aku ke kelas dulu ya pak. Bapak banyak-banyak doain aku aja ya. Hehehe.” Aku meminta restu sama Pak Kumis.
“Baik mbak.”
“Ohya, satu lagi Pak. Kemarin-kemarin waktu aku telat yang jaga nggak Pak Kumis, kayaknya sih satpam baru. Aku nggak dibolehin masuk, untung dibantuin sama temen. Sampein ke satpam baru itu ya Pak, jangan pelit-pelit kalau jadi satpam. Hehehe.”
“Oh… Dia namanya Danang mbak. Baik saya akan sampaikan.”
“Makasih ya pak.”
Aku melenggang senang menuju kelasku. Semoga saja Kak Raihan sudah menungguku di depan kelas sambil membawa setangkai bunga mawar di tangannya. Memang khayalanku ketinggian. Tapi nggak apa-apa ah. Mengkhayal adalah hal yang menyenangkan dan nggak dilarang.
Aku jadi inget kejadian tadi malem. Habis makan malem sama keluarga, aku menuju ke kamar buat menyiapkan keperluan besok di sekolah. Tapi tiba-tiba hpku bunyi, setelah aku lihat ternyata itu panggilan dari Kak Raihan. Hampir aja aku lompat-lopat kegirangan.
“Halo, assalamualaikum.” Sapa aku.
“Wa’alaikumsalam. Icha ya?” Jawabnya.
“Iya. Ada apa Kak Raihan?” Aku berusaha untuk tidak kelihatan senang. Biasa aja dong Cha…
“Lagi apa Cha?”
“Lagi apa ya… Lagi di kamar aja nih.” Jawabku seadanya.
“Aku nggak ganggukan?”
“Nggak kok Kak. Ada apa ya Kak?”
‘Nggak ada yang penting sih. Cuma pengen telpon seseorang aja.”
“Oh.... Nggak telpon pacar aja?” Aduh, ngapain Tanya pacar disaat begini. Kalau sudah punya pacar aku bisa gantung diri di pohon cabe nih.
“Pacarnya siapa Cha? Aku nggak punya pacar sudah setengah tahunan kok.” Jawab Raihan. Aku baru tahu kalau setengah tahun yang lalu Kak Raihan punya pacar. Yaiyalah, itu kan sebelum aku kenal sama Kak Raihan.
“Aku kan nggak tahu Kak. Nggak main keluar Kak?”
“Main keluar? Nggak ah… Ntar masuk angin, kan dingin Cha.” Kak Raihan doyan juga bercanda.
“Hehehe. Kayak anak kecil banget takut masuk angin.” Pura-pura ejekku.
“Emang nih. Macih kecil Kak Icha.” Kak Raihan pura-pura niruin suara anak kecil.
“Hahaha. Emang nih, baru tahu aku kalau Kak Raihan lucu juga.”
“Baru tahu ya… Apa mau tahu lebih banyak?” Kak Raihan beneran nggak nih. Kayak ngajakin lebih deket aja.
“Boleh-boleh.”
“Jadi temenku mau nggak Cha? Kalau mau berarti jangan panggil aku dengan Kak lagi. Tapi cukup dengan Raihan.”
“Uhm, mau sih jadi temennya Kak… Eh, Raihan.” Bingung kan jadinya.
“Siiiiippp. Besok jam setengah tujuh aku ke kelasmu ya. Dagh…”
Tut.. Tut.. Tut.. Hpnya sudah mati. Dan aku masih bengong dengan semua yang terjadi. Bener nggak sih? Besok dia beneran mau dateng ke kelas jam setengah tujuh? Apa aku cuma dikerjain ya? Pusing.
Dan sekarang aku ditemanin langkahku menuju kelas. Sekolah masih sepi. Baru ada beberapa orang yang datang. Setelah nyampe kelas. Doeng, belum ada satu nyawapun disini. Kalau ada lomba berarti aku juara satu dong. sayangnya nggak ada. Huuff.
Aku naruh tas dan menuju keluar kelas. Mending aku duduk-duduk di pinggir lapangan masih bisa kena angin segar dan dinginnya pagi ini.
“Icha, maaf telat.” Kak Raihan terengah-engah.
“Nggak apa-apa. Kak Raihan habis lari?” Tanyaku.
“Kak?”
“Upz, maksudku Raihan.” Aku salah tingkah.
“Belum terbiasa ya… Latihan terus ya..” Dia duduk disebelahku.
“Ada apa kok mau ketemuan?” Tanya aku penasaran.
“Ini.” Dia memberi sebuah jilidan buku padaku.
“Apa nih?” Rasa penasaranku bertambah.
“Novel. Sebelum aku daftarin ke penerbit, aku mau kamu yang baca dulu.” Jawabnya dengan senyum yang nggak hilang dari wajahnya.
“Aku yang baca? Nggak apa-apa nih?” Aku masih bengong. Aku merasa tersanjung dengan perlakuan ini.
“Iya. Kamu kan punya kritik dan saran yang oke buat orang lain, jadi aku pengen setelah kamu baca novelku kamu ngasih tahu aku apa yang kurang dari novelku ini.”
“Oh… gitu. Aku merasa tersanjung nih Rai.” Sudah mulai terbiasa.
“Hehehe… Makasih ya kamu sudah mau jadi temen plus bantuin aku soal novel ini.”
“Itu gunanya temenkan?” Aku sok tua sambil nyengir.
“Iya. Kamu kalo ada apa-apa dan perlu bantuan ngomong aja sama aku ya…” Raihan sudah mulai banyak bicara sama aku. Dan tandanya sekarang kita sudah mulai deket.
“Siiaapp Pak.” Aku memberi hormat sama Raihan.
“Aku balik ke kelas dulu ya.. Sudah mau masuk. Dadah Icha…” Dia mengucel-ucel rambutku dan berlalu.
Aku kembali ke kelas sambil senyum-senyum sendiri. Hari ini adalah saat-saat bahagia buat aku. Dan kayaknya ada Mita yang ngawasin dari pintu kelas kita. Setelah sampai kelas mungkin akan banyak pertanyaan dari Mita untukku.
“Icha, tadi kamu ngobrol sama Kak Raihan di pinggir lapangan basket ya?” Tanya si Mita yang kayaknya penasaran banget.
“Iya.” Jawabku singkat coz aku masih terbuai dengan lamunan terindahku.
“Kok bisa sih?” Mita tambah penasaran.
“Bisa. Aku sekarang jadi temennya Mit. Dan ini adalah novelnya yang akan aku baca dan ngasih masukan sama dia.” Aku sudah di alam nyata dan nggak mau temenku yang satu ini ntar belajar dengan masih penasaran sama aku.
Tet… Tet… Tet… Bel berbunyi.
“Cha! Ntar istirahat pokoknya cerita lho… Awas kalo nggak.” Ancaman Mita malah buat aku tambah tersenyum lebar.
“Penasaran ya? Hehehe.”
Tet… Tet… Tet… Bel istirahat bunyi. Waktunya konverensi pers nih.
“Ayo ke kantin.” Tanganku digeret Mita dengan paksa. Cewek ini kalau sudah ada maunya ternyata bisa seberingas ini ya… CkCkCkCk…
“Sabar non.” Aku pasrah dibawa kemana aja sama Mita.
“Cepetan. Sudah ditunggu Ringgo sama Pandu.” Mita yang biasanya sabar jadi kayak gini.
“Kamu kelaperan, kangen sama Ringgo apa mau tanya soal aku tadi sih?” Aku jadi penasaran sama temenku ini.
“Semuanya Icha. Komplit deh pokoknya.”
“Wew, pantes aja.”
Akhirnya nyampe juga di kantin. Pergelangan tanganku yang ditarik Mita jadi merah gara-gara nih cewek.
“Mit, tanganku merah nih kamu tarik-tarik.” Rengek aku sambil manyun-manyun.
“Hehehe. Iya. Maaf ya Cha.” Jawab Mita yang kayaknya sudah kembali jadi Mita yang manis.
“Pokoknya aku ditraktir bakso. Nggak mau tahu.” Aku pura-pura ngambek. Tapi ngambek-ngambek kok minta bakso ya…
“Iya-iya.” Mita setuju dengan kesepakatan ini.
“Ada apa Mit? Icha kenapa?” Tanya Pandu sambil lihat-lihat aku dari bawah sampe atas.
“Iya. Ada apa  Mit? Kok cepet banget nyampe kantinnya. Biasanya aku dulu yang nyampe coz kelasmu jauh dari kantin.” Ringgo juga penasaran karena ulah Mita.
“Aku aja yang jawab.” Aku nggak mau Mita ntar malah mendramatisir keadaan.
“Aku tadi ngobrol sama Kak Raihan. Dan dikasih novel buat aku baca coz dia butuh masukan sebelum novelnya dikirim ke penerbit. Cuma itu doang kok.” Aku mengakhiri klarifikasi.
“Wah, semakin deket nih Cha?” Ringgo dengan pertanyaan pertamanya.
“Iya. Sekarang kami jadi temen. Dan aku juga cukup panggil namanya dengan Raihan doang.” Aku nyengir-nyengir sambil memberi penjelasan.
“Cuma gitu doang aja heboh.” Pandu berhasil membuat aku jengkel. Tapi aku biarin aja ah. Kesenanganku nggak bisa dirusak ole si kecoak Pandu.
“Tapi ini kemajuan lho Ndu…” Mita ngebelain aku.
“Iya. Sudah setengah tahun Icha kesemsem sama Raihan. Dan baru kali ini Raihan deketin Icha dengan kesadarannya sendiri.”
Rahian beduwa hemang hahu hehaaaanku. Tapi huat kamu hawas ya kolo husak kehenanganhu.” Aku ngomong sambil makan jadi kelihatannya aneh.
“Ditelen dulu tuh bakso baru ngomong. Weeekk.” Pandu emang hobi gangguin aku.
“Biayin.” Baksonya belum abis di mulutku.
“Jangan kegeeran dulu.” Pandu pergi dari tempat duduk kita.
“Mau kemana Ndu?” Tanya Ringgo.
“Ke kelas.”
“Nggo, Pandu kenapa ya?” Tanya Mita.
Ringgo cuma geleng-geleng kepala tanda kalau dia nggak tahu apa-apa.
“Dia suka sama kamu kali Cha!! Dia cemburu gara-gara ceritamu.” Mita menerka-nerka kenapa Pandu tiba-tiba balik kelas ninggalin kita.
“Nggak mungkin lah Mit. Tahu sendiri kan dia jahilnya setengah mati sama aku kok. Suka dari hongkong?” Jawabku. Dan kali ini baksonya sudah habis jadi ngomongnya nggak belepotan lagi.
“Tapi bisa jadi lho Cha!!” Sanggah pacarnya Mita si Ringgo.
“Mit, balik ke kelas yuk? Tapi jangan lupa bayarin baksoku ya…” Aku ngibrit ke kelas. Nggak mau ngomongin hal yang nggak mungkin kayak tadi.
Akhirnya semua pelajaran terlewati juga. Aku sudah nggak sabar pulang terus makan yang banyak terus baca novelnya Raihan sampe malem. Besok nggak ada PR lagi. Emang hari ini waktu yang tepat buat baca tuh novel.
“Cha!! Tunggu!!” Suara Pandu terdengar tapi sosoknya belum kelihatan. Ternyata dia lari-larian menujuku.
“Ada apa Ndu? Aku harus cepet pulang nih.” Jelasku.
“Oh… Ya sudah. Aku nggak ganggu deh. Sory.” Dia berbalik arah dan jalan menjauh.
Pandu kok nggak kayak biasanya ya… Dia jadi muram. Hari ini aku ketemu dia Cuma di kantin tadi sih. Baru kelihatan kalau lagi ada masalah.
“Ndu!!” sapa aku sebelum pandangannya lenyap dari mataku. Dia menoleh kearahku.
“Ada waktu kok. Tapi anterin pulang ya.” Aku ngasih senyumanku yang paling manis buat dia. Biar dia ikutan senyum. Tapi kayaknya nggak mempan.
“Makasih.” Jawabnya singkat tapi berbalik lagi menuju arahku.
“Mau ngobrol dimana Ndu?” Tanyaku.
“Mau ke rumahku nggak?” Pandu ngajak dengan tampang serius.
“Lho!! Nggak di cafe aja?” Tanyaku lagi.
“Enak aja nraktir kamu di cafe. Di rumah aja bisa gratis kok. Aku juga mau ngobrol banyak sama kamu. Mau nggak? Rumahku rame kok, tenang aja.” Orang ini lagi ada masalah tapi tetep aja ada waktu buat jahilin aku. Kayak sudah ada jadwal ngejahilin aku aja.
“Iya iya. Tapi awas kalau macem-macem. Aku punya macem-macem silet di tasku.” Jelasku dengan pasang muka waspada. Kayak mau perang aja bawa-bawa silet. Mau perang atau mau nyukur bulu kaki??hahaha
“Nggak doyan sama kamu non.” Dia sedikit nyengir sama aku.
“Alhamdulillah.” Aku senyum lebar karena lega. Lega apaan? Aku sudah tahu kok dia nggak doyan aku.
“Ya udah. Sekarang aja yuk.” Dia narik tanganku buat pulang. Eh, buat menuju ke rumahnya. Coz dari siang sampe sore mungkin aku dikontrak buat dengerin omongannya dia. Asal dikasih makan aku ya mau-mau aja.
Motornya Pandu yang membawa kami berdua melaju dijalanan dan ternyata rumahnya cukup jauh. Setelah kira-kira setengah jam kami duduk di motor dalam keheningan, motor itu berhenti di sebuah rumah yang mewah. Rumah yang terlihat gagah dari luar. Gerbang yang mengellilinginya menjulang tinggi. Rumahnya Pandu ternyata elit juga. Setelah gerbang dibuka sama seorang satpam dan kami masuk, aku melihat keindahan yang telah tertutupi gerbang yang nggak terlihat dari luar. Taman dengan tatanan pohon dan bunga yang sangat rapi, ditambah dengan batu-batuan dan tempat duduk taman, taman itu terlihat sangat indah dan sangat menggoda mata untuk melihatnya.
“Turun Cha!! Sudah sampe nih.” Dalam hatiku aku bilang aku juga sudah tahu Ndu. Masa kamu masuk rumah tetangga kamu.
“Iya. Taman kamu bagus ya Ndu?”
“Mama dan adikku yang suka sama taman.” Dia masih muram. Apa masalahnya ya.
“Iya. Kalau kamu yang rawat nggak bakalan jadi kayak gini Ndu.” Aku mencoba dengan satu gurauan.
“Iya. Tapi sekarang aku akan kehilangan dua-duanya.” Jawab Pandu.
Aku bingung dengan apa yang dikatakannya. Dia mempersilahkan aku masuk dan duduk di taman belakang rumah. Di sini aku melihat taman yang lebih indah dua kali lipat dari taman yang di depan. Yang aku suka di sini ada kolam renangnya. Di sudut taman juga ada ayunan kayak jaman dulu. Ayunan ban yang sering aku mainin waktu kecil.
“Kamu duduk di sini aja ya Cha!! Biar lebih santai. Kamu mau minum apa?”
“Terserah kamu Ndu. Yang penting dingin ya, kalau ada makanan juga boleh. Sudah laper nih soalnya.” Aku jujur dari hatiku yang paling dalam.
“Itu mah bukan terserah aku Cha!! Itu mah emang maunya kamu. Ya udah tunggu ya…” Dia berlalu. Paling juga nyuruh penbantu buatin semuanya. Aku yakin dia juga laper kayak aku. So, jangan sungkan-sungkan anggap aja rumah sendiri.
Setelah sekian lama aku menunggu dengan kehausan dan keroncongan. Akhirnya si Pandu datang juga dengan membawa dua gelas minuman. Yang satu diberikan padaku. Dalam hatiku mana makanannya ya.
“Makanannya bentar lagi. Lagi dipanasin si mbok.” Kayaknya dia tahu apa yang aku tanyakan dalam hatiku. Hehehe.
“Oh…”
“Masih bisa nahan lima belas menitankan?” ejekan Pandu sudah dimulai.
“Bisalah. Ohya Ndu, mau ngomong apa? Kok si Ringgo dan Mita nggak diajak juga?” Aku masih penasaran soal ini.
“Nggak suka cerita soal ini sama banyak orang. Dan kamu tahu kenapa aku milih kamu buat cerita?” Pandu membuatku jadi tambah penasaran.
“Kenapa? Bukannya aku sama kayak mereka? Sahabatmu?” Tanya aku lagi.
“Kamu special Cha!! Kamu idola aku waktu SD dan SMP.”
“Apa? Idola? Maksudnya gimana sih? Kamu dah mulai buat aku bingung.” Aku garuk-garuk kepala pertanda kebingunganku sudah lebih dari yang biasanya.
“Inget waktu SD? Kamu punya temen yang namanya Ambo?” Tanya Pandu.
“Ambo? Ya ingetlah. Dia yang selalu jadi temen main basket aku. Dia selalu kalah sama aku coz dia lebih kecil dari aku. Dia cowok imut.” Jelasku.
“Aku Ambo. Nama kecil aku Ambo.” Pandu buat aku terbelalak. Ceritanya dia ternyata ada hubungannya dengan aku.
“Kamu Ambo? Kok nggak ngomong dari awal? Makanya aku kayak sudah pernah lihat kamu. Kamu berubah ya.....” Aku sudah mulai bisa mengendalikan kekagetanku.
“Iya. Coz setelah pindah sekolah dan jauh dari kamu, kamu jadi cambuk buat aku. Aku jadi seperti sekarang karena kamu Cha!! Aku suka dan jago basket juga karena kamu Cha!!” Pandu ternyata masih ingat sama aku.
“Sampe kamu pindah ke sekolahan kita gara-gara aku?” Tanya aku lagi.
“Geer banget sih Cha!! Ya nggak lah. Aku masuk sekolahan kita coz aku mau jadi tim intinya. Tim basket sekolah kita kan tangguh. Dan aku nggak nyangka kalau kita ketemu di gerbang sekolah. Dan aku nggak nyangka kalau kita ketemu di gerbang sekolah pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah ini.”
“Wow, ini kejutan yang bagus Ndu!! Aku seneng kita bisa temenan lagi.” Aku seneng Pandu jujur sama aku. Dan ini akan mempererat pesahabatan kita.
“Kamu seneng banget ya Cha!! Sampe nggak laper lagi.” Pandu mulai lagi bercandanya.
“Kalau soal laper sih tetep Ndu. Nih cacing-cacing di perutku sudah mulai menari-nari.”
“Yuk, makan… sudah siap di meja makan tuh.” Ajak sang tuan rumah menuju makanan yang bisa membuatku ngiler.
“Ayuk-ayuk aja. Ohya Ndu, dari tadi kamu manyun terus tuh cuma pengen godain aku doang ya?” Tanya aku lagi. Pandu Cuma menjawab dengan senyuman. Ehm, baru kali ini di dalam senyumannya membuatku diam seribu bahasa. Nggak tahu kenapa. Senyumnya beda seperti biasanya. Bukan senyuman jahil yang biasanya mengiringi celotehnya.
Setelah makan di rumahnya Pandu, aku di anter pulang sama dia. Aku lega nggak ada apa-apa yang terjadi sama dia. Ternyata dia cuma acting sebelum memberi tahu yang sebenarnya. Aku makasih banyak sama Tuhan sudah mengembalikan sahabatku yang hilang selama lima tahun ini.
“Makasih ya Ndu… Makanannya mbokmu enak lho.” Puji aku setelah kami sampe depan rumahku.
“Tentu. Mbokku tuh juaranya masak satu RT di kompleks rumah. Hehehe.” Dia terlihat lebih ceria.
“Nggak mampir? Masakan ibuku juga nggak kalah kok. Ibu juga pasti seneng kalau kamu ternyata Ambo.” Aku mempersilahkan dia masuk ke rumah.
“Sudah kenyang Cha. Masa kamu nggak kenyang? Kapan-kapan aja ya. Aku langsung aja.” Pandu pamit.
Aku hari ini capek banget. nyampe rumah aja jam lima sore. Untungnya besok nggak ada PR. Jadi setelah makan malam ntar aku bisa langsung tidur. gendut-gendut deh badanku. Novelnya Raihan apa kabarnya ya. Kapan aku mau baca. Hari ini aku sudah capek banget. masih ada waktu sebelum diminta Raihan.
“Icha, tadi siang kok sampe sore kemana aja?” Tanya ibu waktu makan malam.
“Ohya, sampe lupa ijin sama ibu. Maaf ya Bu. Tadi ke rumahnya temen. Ibu tahu Ambo temen Icha waktu SD kan?” jelasku sambil melahap hidangan di meja makan.
“Ambo? Bukannya dia pindah ke semarang ya Cha?” Tanya ibu lagi.
“Sekarang dia dah balik ke Jakarta kok Bu. Nggak nyangka kita satu sekolah.”
“Ya udah. Tadi ibu khawatir banget lho Cha… Lain kali telpon ya kalau pulangnya telat.
“Ciiiaaapp Bu… Kalau nggak lupa ya… Hehehe.”
Akhirnya makan malam selesai. Waktunya istirahat di kamar. Aku mau nyiapin buku buat besok dulu deh biar nggak repot besok pagi. Setelah aku nyiapin buku pelaran, hp-ku ternyata bunyi. Dan itu tandanya ada sms masuk. Maklumlah anak SMA, sukanya sms biat irit uang saku. Aku buka sms yang masuk, dan ternyata itu sms dari Kak Raihan.
Gimana Cha novelnya?
Bagus nggak? Ringgo.

Aduh, sudah ditanyain soal novel lagi. Padahal ngasihnya baru tadi pagi. Aku bales yang jujur aja deh.
 Maaf kak…
Aku belum sempet baca coz tadi ada perlu di rumah temen.
Sekali lagi maaf ya…

Setelah beberapa lama ada juga balesan dari smsku. Aku takut dia tersinggung.
Kok panggilnya Kak sih?
Kan tadi pagi dah janji… ^_^
Iya gpp kok, nyantai aja.
Bacanya kalau kamu luang aja.
Sudah malem nih, gud nite y…
Met bobo’

Wah, mimpi apa ya aku semalam? Hari ini adalah hari yang sangat indah. Aku di deketin sama gebetanku, aku juga nemuin kembali sahabatku yang hilang yang ternyata selama ini dia disampingku. Kayaknya malam ini aku akan mimpi indah deh.