Jumat, 27 Januari 2012

Novel: Tak berjudul part 3


Saat-saat Bahagia


“Selamat pagi Pak Kumis.” Sapa aku yang emang sudah lama nggak ngobrol-ngobrol sama Pak Kumis. Pak Kumis ini bukan nama aslinya, nama asli dari Pak Kumis adalah Pak Karyo. Dipanggil Pak Kumis karena kumis kesayangannya selalu bertengger di wajahnya. Walau Pak Kumis mempunyai muka yang galak tapi sebenarnya baik hati kok. Kalau nggak baik hati nggak mungkin dong sekarang aku sengaja nyapa Pak Kumis.
“Selamat pagi Mbak Icha. Kok pagi-pagi sudah berangkat Mbak?” Balas Pak Kumis.
“Hehehe. Ada urusan sama ketua jurnalis sebelum masuk kelas.” Jawabku sambil memperlihatkan senyum manisku.
“Mas Raihan ya Mbak?”
“Iya Pak.”
“Wah, sudah ada kemajuan ya Mbak?” Tanya Pak Kumis lagi.
“Hehehe. Nggak tahu nih Pak.” Aku malu-malu meong. Pak Kumis emang teman curhat yang enak. Pendengar setia dan kadang memberi nasihat-nasihat yang membuat aku jauh lebih baik.
“Mbak Icha pantes jadi pacarnya Mas Raihan. Mas Raihan ganteng, Mbak Icha manis.” Pujian Pak Kumis membuatku membumbung. Dan juga telah membuat wajahku merah kayak kepiting rebus.
“Maunya sih gitu Pak. Ohya pak, sudah jam segini nih. Aku ke kelas dulu ya pak. Bapak banyak-banyak doain aku aja ya. Hehehe.” Aku meminta restu sama Pak Kumis.
“Baik mbak.”
“Ohya, satu lagi Pak. Kemarin-kemarin waktu aku telat yang jaga nggak Pak Kumis, kayaknya sih satpam baru. Aku nggak dibolehin masuk, untung dibantuin sama temen. Sampein ke satpam baru itu ya Pak, jangan pelit-pelit kalau jadi satpam. Hehehe.”
“Oh… Dia namanya Danang mbak. Baik saya akan sampaikan.”
“Makasih ya pak.”
Aku melenggang senang menuju kelasku. Semoga saja Kak Raihan sudah menungguku di depan kelas sambil membawa setangkai bunga mawar di tangannya. Memang khayalanku ketinggian. Tapi nggak apa-apa ah. Mengkhayal adalah hal yang menyenangkan dan nggak dilarang.
Aku jadi inget kejadian tadi malem. Habis makan malem sama keluarga, aku menuju ke kamar buat menyiapkan keperluan besok di sekolah. Tapi tiba-tiba hpku bunyi, setelah aku lihat ternyata itu panggilan dari Kak Raihan. Hampir aja aku lompat-lopat kegirangan.
“Halo, assalamualaikum.” Sapa aku.
“Wa’alaikumsalam. Icha ya?” Jawabnya.
“Iya. Ada apa Kak Raihan?” Aku berusaha untuk tidak kelihatan senang. Biasa aja dong Cha…
“Lagi apa Cha?”
“Lagi apa ya… Lagi di kamar aja nih.” Jawabku seadanya.
“Aku nggak ganggukan?”
“Nggak kok Kak. Ada apa ya Kak?”
‘Nggak ada yang penting sih. Cuma pengen telpon seseorang aja.”
“Oh.... Nggak telpon pacar aja?” Aduh, ngapain Tanya pacar disaat begini. Kalau sudah punya pacar aku bisa gantung diri di pohon cabe nih.
“Pacarnya siapa Cha? Aku nggak punya pacar sudah setengah tahunan kok.” Jawab Raihan. Aku baru tahu kalau setengah tahun yang lalu Kak Raihan punya pacar. Yaiyalah, itu kan sebelum aku kenal sama Kak Raihan.
“Aku kan nggak tahu Kak. Nggak main keluar Kak?”
“Main keluar? Nggak ah… Ntar masuk angin, kan dingin Cha.” Kak Raihan doyan juga bercanda.
“Hehehe. Kayak anak kecil banget takut masuk angin.” Pura-pura ejekku.
“Emang nih. Macih kecil Kak Icha.” Kak Raihan pura-pura niruin suara anak kecil.
“Hahaha. Emang nih, baru tahu aku kalau Kak Raihan lucu juga.”
“Baru tahu ya… Apa mau tahu lebih banyak?” Kak Raihan beneran nggak nih. Kayak ngajakin lebih deket aja.
“Boleh-boleh.”
“Jadi temenku mau nggak Cha? Kalau mau berarti jangan panggil aku dengan Kak lagi. Tapi cukup dengan Raihan.”
“Uhm, mau sih jadi temennya Kak… Eh, Raihan.” Bingung kan jadinya.
“Siiiiippp. Besok jam setengah tujuh aku ke kelasmu ya. Dagh…”
Tut.. Tut.. Tut.. Hpnya sudah mati. Dan aku masih bengong dengan semua yang terjadi. Bener nggak sih? Besok dia beneran mau dateng ke kelas jam setengah tujuh? Apa aku cuma dikerjain ya? Pusing.
Dan sekarang aku ditemanin langkahku menuju kelas. Sekolah masih sepi. Baru ada beberapa orang yang datang. Setelah nyampe kelas. Doeng, belum ada satu nyawapun disini. Kalau ada lomba berarti aku juara satu dong. sayangnya nggak ada. Huuff.
Aku naruh tas dan menuju keluar kelas. Mending aku duduk-duduk di pinggir lapangan masih bisa kena angin segar dan dinginnya pagi ini.
“Icha, maaf telat.” Kak Raihan terengah-engah.
“Nggak apa-apa. Kak Raihan habis lari?” Tanyaku.
“Kak?”
“Upz, maksudku Raihan.” Aku salah tingkah.
“Belum terbiasa ya… Latihan terus ya..” Dia duduk disebelahku.
“Ada apa kok mau ketemuan?” Tanya aku penasaran.
“Ini.” Dia memberi sebuah jilidan buku padaku.
“Apa nih?” Rasa penasaranku bertambah.
“Novel. Sebelum aku daftarin ke penerbit, aku mau kamu yang baca dulu.” Jawabnya dengan senyum yang nggak hilang dari wajahnya.
“Aku yang baca? Nggak apa-apa nih?” Aku masih bengong. Aku merasa tersanjung dengan perlakuan ini.
“Iya. Kamu kan punya kritik dan saran yang oke buat orang lain, jadi aku pengen setelah kamu baca novelku kamu ngasih tahu aku apa yang kurang dari novelku ini.”
“Oh… gitu. Aku merasa tersanjung nih Rai.” Sudah mulai terbiasa.
“Hehehe… Makasih ya kamu sudah mau jadi temen plus bantuin aku soal novel ini.”
“Itu gunanya temenkan?” Aku sok tua sambil nyengir.
“Iya. Kamu kalo ada apa-apa dan perlu bantuan ngomong aja sama aku ya…” Raihan sudah mulai banyak bicara sama aku. Dan tandanya sekarang kita sudah mulai deket.
“Siiaapp Pak.” Aku memberi hormat sama Raihan.
“Aku balik ke kelas dulu ya.. Sudah mau masuk. Dadah Icha…” Dia mengucel-ucel rambutku dan berlalu.
Aku kembali ke kelas sambil senyum-senyum sendiri. Hari ini adalah saat-saat bahagia buat aku. Dan kayaknya ada Mita yang ngawasin dari pintu kelas kita. Setelah sampai kelas mungkin akan banyak pertanyaan dari Mita untukku.
“Icha, tadi kamu ngobrol sama Kak Raihan di pinggir lapangan basket ya?” Tanya si Mita yang kayaknya penasaran banget.
“Iya.” Jawabku singkat coz aku masih terbuai dengan lamunan terindahku.
“Kok bisa sih?” Mita tambah penasaran.
“Bisa. Aku sekarang jadi temennya Mit. Dan ini adalah novelnya yang akan aku baca dan ngasih masukan sama dia.” Aku sudah di alam nyata dan nggak mau temenku yang satu ini ntar belajar dengan masih penasaran sama aku.
Tet… Tet… Tet… Bel berbunyi.
“Cha! Ntar istirahat pokoknya cerita lho… Awas kalo nggak.” Ancaman Mita malah buat aku tambah tersenyum lebar.
“Penasaran ya? Hehehe.”
Tet… Tet… Tet… Bel istirahat bunyi. Waktunya konverensi pers nih.
“Ayo ke kantin.” Tanganku digeret Mita dengan paksa. Cewek ini kalau sudah ada maunya ternyata bisa seberingas ini ya… CkCkCkCk…
“Sabar non.” Aku pasrah dibawa kemana aja sama Mita.
“Cepetan. Sudah ditunggu Ringgo sama Pandu.” Mita yang biasanya sabar jadi kayak gini.
“Kamu kelaperan, kangen sama Ringgo apa mau tanya soal aku tadi sih?” Aku jadi penasaran sama temenku ini.
“Semuanya Icha. Komplit deh pokoknya.”
“Wew, pantes aja.”
Akhirnya nyampe juga di kantin. Pergelangan tanganku yang ditarik Mita jadi merah gara-gara nih cewek.
“Mit, tanganku merah nih kamu tarik-tarik.” Rengek aku sambil manyun-manyun.
“Hehehe. Iya. Maaf ya Cha.” Jawab Mita yang kayaknya sudah kembali jadi Mita yang manis.
“Pokoknya aku ditraktir bakso. Nggak mau tahu.” Aku pura-pura ngambek. Tapi ngambek-ngambek kok minta bakso ya…
“Iya-iya.” Mita setuju dengan kesepakatan ini.
“Ada apa Mit? Icha kenapa?” Tanya Pandu sambil lihat-lihat aku dari bawah sampe atas.
“Iya. Ada apa  Mit? Kok cepet banget nyampe kantinnya. Biasanya aku dulu yang nyampe coz kelasmu jauh dari kantin.” Ringgo juga penasaran karena ulah Mita.
“Aku aja yang jawab.” Aku nggak mau Mita ntar malah mendramatisir keadaan.
“Aku tadi ngobrol sama Kak Raihan. Dan dikasih novel buat aku baca coz dia butuh masukan sebelum novelnya dikirim ke penerbit. Cuma itu doang kok.” Aku mengakhiri klarifikasi.
“Wah, semakin deket nih Cha?” Ringgo dengan pertanyaan pertamanya.
“Iya. Sekarang kami jadi temen. Dan aku juga cukup panggil namanya dengan Raihan doang.” Aku nyengir-nyengir sambil memberi penjelasan.
“Cuma gitu doang aja heboh.” Pandu berhasil membuat aku jengkel. Tapi aku biarin aja ah. Kesenanganku nggak bisa dirusak ole si kecoak Pandu.
“Tapi ini kemajuan lho Ndu…” Mita ngebelain aku.
“Iya. Sudah setengah tahun Icha kesemsem sama Raihan. Dan baru kali ini Raihan deketin Icha dengan kesadarannya sendiri.”
Rahian beduwa hemang hahu hehaaaanku. Tapi huat kamu hawas ya kolo husak kehenanganhu.” Aku ngomong sambil makan jadi kelihatannya aneh.
“Ditelen dulu tuh bakso baru ngomong. Weeekk.” Pandu emang hobi gangguin aku.
“Biayin.” Baksonya belum abis di mulutku.
“Jangan kegeeran dulu.” Pandu pergi dari tempat duduk kita.
“Mau kemana Ndu?” Tanya Ringgo.
“Ke kelas.”
“Nggo, Pandu kenapa ya?” Tanya Mita.
Ringgo cuma geleng-geleng kepala tanda kalau dia nggak tahu apa-apa.
“Dia suka sama kamu kali Cha!! Dia cemburu gara-gara ceritamu.” Mita menerka-nerka kenapa Pandu tiba-tiba balik kelas ninggalin kita.
“Nggak mungkin lah Mit. Tahu sendiri kan dia jahilnya setengah mati sama aku kok. Suka dari hongkong?” Jawabku. Dan kali ini baksonya sudah habis jadi ngomongnya nggak belepotan lagi.
“Tapi bisa jadi lho Cha!!” Sanggah pacarnya Mita si Ringgo.
“Mit, balik ke kelas yuk? Tapi jangan lupa bayarin baksoku ya…” Aku ngibrit ke kelas. Nggak mau ngomongin hal yang nggak mungkin kayak tadi.
Akhirnya semua pelajaran terlewati juga. Aku sudah nggak sabar pulang terus makan yang banyak terus baca novelnya Raihan sampe malem. Besok nggak ada PR lagi. Emang hari ini waktu yang tepat buat baca tuh novel.
“Cha!! Tunggu!!” Suara Pandu terdengar tapi sosoknya belum kelihatan. Ternyata dia lari-larian menujuku.
“Ada apa Ndu? Aku harus cepet pulang nih.” Jelasku.
“Oh… Ya sudah. Aku nggak ganggu deh. Sory.” Dia berbalik arah dan jalan menjauh.
Pandu kok nggak kayak biasanya ya… Dia jadi muram. Hari ini aku ketemu dia Cuma di kantin tadi sih. Baru kelihatan kalau lagi ada masalah.
“Ndu!!” sapa aku sebelum pandangannya lenyap dari mataku. Dia menoleh kearahku.
“Ada waktu kok. Tapi anterin pulang ya.” Aku ngasih senyumanku yang paling manis buat dia. Biar dia ikutan senyum. Tapi kayaknya nggak mempan.
“Makasih.” Jawabnya singkat tapi berbalik lagi menuju arahku.
“Mau ngobrol dimana Ndu?” Tanyaku.
“Mau ke rumahku nggak?” Pandu ngajak dengan tampang serius.
“Lho!! Nggak di cafe aja?” Tanyaku lagi.
“Enak aja nraktir kamu di cafe. Di rumah aja bisa gratis kok. Aku juga mau ngobrol banyak sama kamu. Mau nggak? Rumahku rame kok, tenang aja.” Orang ini lagi ada masalah tapi tetep aja ada waktu buat jahilin aku. Kayak sudah ada jadwal ngejahilin aku aja.
“Iya iya. Tapi awas kalau macem-macem. Aku punya macem-macem silet di tasku.” Jelasku dengan pasang muka waspada. Kayak mau perang aja bawa-bawa silet. Mau perang atau mau nyukur bulu kaki??hahaha
“Nggak doyan sama kamu non.” Dia sedikit nyengir sama aku.
“Alhamdulillah.” Aku senyum lebar karena lega. Lega apaan? Aku sudah tahu kok dia nggak doyan aku.
“Ya udah. Sekarang aja yuk.” Dia narik tanganku buat pulang. Eh, buat menuju ke rumahnya. Coz dari siang sampe sore mungkin aku dikontrak buat dengerin omongannya dia. Asal dikasih makan aku ya mau-mau aja.
Motornya Pandu yang membawa kami berdua melaju dijalanan dan ternyata rumahnya cukup jauh. Setelah kira-kira setengah jam kami duduk di motor dalam keheningan, motor itu berhenti di sebuah rumah yang mewah. Rumah yang terlihat gagah dari luar. Gerbang yang mengellilinginya menjulang tinggi. Rumahnya Pandu ternyata elit juga. Setelah gerbang dibuka sama seorang satpam dan kami masuk, aku melihat keindahan yang telah tertutupi gerbang yang nggak terlihat dari luar. Taman dengan tatanan pohon dan bunga yang sangat rapi, ditambah dengan batu-batuan dan tempat duduk taman, taman itu terlihat sangat indah dan sangat menggoda mata untuk melihatnya.
“Turun Cha!! Sudah sampe nih.” Dalam hatiku aku bilang aku juga sudah tahu Ndu. Masa kamu masuk rumah tetangga kamu.
“Iya. Taman kamu bagus ya Ndu?”
“Mama dan adikku yang suka sama taman.” Dia masih muram. Apa masalahnya ya.
“Iya. Kalau kamu yang rawat nggak bakalan jadi kayak gini Ndu.” Aku mencoba dengan satu gurauan.
“Iya. Tapi sekarang aku akan kehilangan dua-duanya.” Jawab Pandu.
Aku bingung dengan apa yang dikatakannya. Dia mempersilahkan aku masuk dan duduk di taman belakang rumah. Di sini aku melihat taman yang lebih indah dua kali lipat dari taman yang di depan. Yang aku suka di sini ada kolam renangnya. Di sudut taman juga ada ayunan kayak jaman dulu. Ayunan ban yang sering aku mainin waktu kecil.
“Kamu duduk di sini aja ya Cha!! Biar lebih santai. Kamu mau minum apa?”
“Terserah kamu Ndu. Yang penting dingin ya, kalau ada makanan juga boleh. Sudah laper nih soalnya.” Aku jujur dari hatiku yang paling dalam.
“Itu mah bukan terserah aku Cha!! Itu mah emang maunya kamu. Ya udah tunggu ya…” Dia berlalu. Paling juga nyuruh penbantu buatin semuanya. Aku yakin dia juga laper kayak aku. So, jangan sungkan-sungkan anggap aja rumah sendiri.
Setelah sekian lama aku menunggu dengan kehausan dan keroncongan. Akhirnya si Pandu datang juga dengan membawa dua gelas minuman. Yang satu diberikan padaku. Dalam hatiku mana makanannya ya.
“Makanannya bentar lagi. Lagi dipanasin si mbok.” Kayaknya dia tahu apa yang aku tanyakan dalam hatiku. Hehehe.
“Oh…”
“Masih bisa nahan lima belas menitankan?” ejekan Pandu sudah dimulai.
“Bisalah. Ohya Ndu, mau ngomong apa? Kok si Ringgo dan Mita nggak diajak juga?” Aku masih penasaran soal ini.
“Nggak suka cerita soal ini sama banyak orang. Dan kamu tahu kenapa aku milih kamu buat cerita?” Pandu membuatku jadi tambah penasaran.
“Kenapa? Bukannya aku sama kayak mereka? Sahabatmu?” Tanya aku lagi.
“Kamu special Cha!! Kamu idola aku waktu SD dan SMP.”
“Apa? Idola? Maksudnya gimana sih? Kamu dah mulai buat aku bingung.” Aku garuk-garuk kepala pertanda kebingunganku sudah lebih dari yang biasanya.
“Inget waktu SD? Kamu punya temen yang namanya Ambo?” Tanya Pandu.
“Ambo? Ya ingetlah. Dia yang selalu jadi temen main basket aku. Dia selalu kalah sama aku coz dia lebih kecil dari aku. Dia cowok imut.” Jelasku.
“Aku Ambo. Nama kecil aku Ambo.” Pandu buat aku terbelalak. Ceritanya dia ternyata ada hubungannya dengan aku.
“Kamu Ambo? Kok nggak ngomong dari awal? Makanya aku kayak sudah pernah lihat kamu. Kamu berubah ya.....” Aku sudah mulai bisa mengendalikan kekagetanku.
“Iya. Coz setelah pindah sekolah dan jauh dari kamu, kamu jadi cambuk buat aku. Aku jadi seperti sekarang karena kamu Cha!! Aku suka dan jago basket juga karena kamu Cha!!” Pandu ternyata masih ingat sama aku.
“Sampe kamu pindah ke sekolahan kita gara-gara aku?” Tanya aku lagi.
“Geer banget sih Cha!! Ya nggak lah. Aku masuk sekolahan kita coz aku mau jadi tim intinya. Tim basket sekolah kita kan tangguh. Dan aku nggak nyangka kalau kita ketemu di gerbang sekolah. Dan aku nggak nyangka kalau kita ketemu di gerbang sekolah pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah ini.”
“Wow, ini kejutan yang bagus Ndu!! Aku seneng kita bisa temenan lagi.” Aku seneng Pandu jujur sama aku. Dan ini akan mempererat pesahabatan kita.
“Kamu seneng banget ya Cha!! Sampe nggak laper lagi.” Pandu mulai lagi bercandanya.
“Kalau soal laper sih tetep Ndu. Nih cacing-cacing di perutku sudah mulai menari-nari.”
“Yuk, makan… sudah siap di meja makan tuh.” Ajak sang tuan rumah menuju makanan yang bisa membuatku ngiler.
“Ayuk-ayuk aja. Ohya Ndu, dari tadi kamu manyun terus tuh cuma pengen godain aku doang ya?” Tanya aku lagi. Pandu Cuma menjawab dengan senyuman. Ehm, baru kali ini di dalam senyumannya membuatku diam seribu bahasa. Nggak tahu kenapa. Senyumnya beda seperti biasanya. Bukan senyuman jahil yang biasanya mengiringi celotehnya.
Setelah makan di rumahnya Pandu, aku di anter pulang sama dia. Aku lega nggak ada apa-apa yang terjadi sama dia. Ternyata dia cuma acting sebelum memberi tahu yang sebenarnya. Aku makasih banyak sama Tuhan sudah mengembalikan sahabatku yang hilang selama lima tahun ini.
“Makasih ya Ndu… Makanannya mbokmu enak lho.” Puji aku setelah kami sampe depan rumahku.
“Tentu. Mbokku tuh juaranya masak satu RT di kompleks rumah. Hehehe.” Dia terlihat lebih ceria.
“Nggak mampir? Masakan ibuku juga nggak kalah kok. Ibu juga pasti seneng kalau kamu ternyata Ambo.” Aku mempersilahkan dia masuk ke rumah.
“Sudah kenyang Cha. Masa kamu nggak kenyang? Kapan-kapan aja ya. Aku langsung aja.” Pandu pamit.
Aku hari ini capek banget. nyampe rumah aja jam lima sore. Untungnya besok nggak ada PR. Jadi setelah makan malam ntar aku bisa langsung tidur. gendut-gendut deh badanku. Novelnya Raihan apa kabarnya ya. Kapan aku mau baca. Hari ini aku sudah capek banget. masih ada waktu sebelum diminta Raihan.
“Icha, tadi siang kok sampe sore kemana aja?” Tanya ibu waktu makan malam.
“Ohya, sampe lupa ijin sama ibu. Maaf ya Bu. Tadi ke rumahnya temen. Ibu tahu Ambo temen Icha waktu SD kan?” jelasku sambil melahap hidangan di meja makan.
“Ambo? Bukannya dia pindah ke semarang ya Cha?” Tanya ibu lagi.
“Sekarang dia dah balik ke Jakarta kok Bu. Nggak nyangka kita satu sekolah.”
“Ya udah. Tadi ibu khawatir banget lho Cha… Lain kali telpon ya kalau pulangnya telat.
“Ciiiaaapp Bu… Kalau nggak lupa ya… Hehehe.”
Akhirnya makan malam selesai. Waktunya istirahat di kamar. Aku mau nyiapin buku buat besok dulu deh biar nggak repot besok pagi. Setelah aku nyiapin buku pelaran, hp-ku ternyata bunyi. Dan itu tandanya ada sms masuk. Maklumlah anak SMA, sukanya sms biat irit uang saku. Aku buka sms yang masuk, dan ternyata itu sms dari Kak Raihan.
Gimana Cha novelnya?
Bagus nggak? Ringgo.

Aduh, sudah ditanyain soal novel lagi. Padahal ngasihnya baru tadi pagi. Aku bales yang jujur aja deh.
 Maaf kak…
Aku belum sempet baca coz tadi ada perlu di rumah temen.
Sekali lagi maaf ya…

Setelah beberapa lama ada juga balesan dari smsku. Aku takut dia tersinggung.
Kok panggilnya Kak sih?
Kan tadi pagi dah janji… ^_^
Iya gpp kok, nyantai aja.
Bacanya kalau kamu luang aja.
Sudah malem nih, gud nite y…
Met bobo’

Wah, mimpi apa ya aku semalam? Hari ini adalah hari yang sangat indah. Aku di deketin sama gebetanku, aku juga nemuin kembali sahabatku yang hilang yang ternyata selama ini dia disampingku. Kayaknya malam ini aku akan mimpi indah deh.

Jumat, 13 Januari 2012

Novel: Tak berjudul part 2


Cinta Jurnalistik apa basket?

“Kok tumben Cha berangkat pagi?” Mita baru nyampe di kelas.
“Iya. Aku nunggu kamu. Mau pinjem tugas matematika.”
“Lho!! Nggak biasanya kamu kayak gini Cha. Tadi malem ngapain? Ketiduran?” Mita sukanya menghubungan dengan ketiduran kalo sama aku. Emang sih suka tidur. tapi yang kerenan dikit kek alasannya.
“Nggak lah… Aku tadi malem ngetik tugas jurnalis. Banyak banget, coz madingnya ntar harus ditempel. Ini juga masih ngantuk Mit.” Penjelasanku panjang lebar dengan mata yang masih ngantuk.
“Ya udah, nih tugasku. Mending kamu nyalinnya di perpus aja deh. Biar nggak digangguin temen-temen. Yuk aku temenin…” Mita baik banget ya sama sahabatnya yang sudah nggak bersemangat ini.
“He’em. Makasih ya Mit.”
Kami bergandengan tangan menuju perpus. Dan kayaknya perpus belum ada yang menghuni untuk jam-jam segini.
“Sepi banget nih perpus. Kalo aku sendirian nyalin tugas disini ya akhirnya ketiduran.” Suasana di perpus saat ini emang cocok buat tidur. Ya secara tadi malem cuma tidur 3 jam doang. Ditambah AC yang menyejukkan ini. Kalau aja nggak ada Mita, aku bisa tidur disini sampe siang nih.
“Ya udah cepet buat tugasnya. Jangan ngobrol dulu.” Oceh Mita kayak ibu-ibu.
Waktunya jam istirahat. Badanku rasanya pegael-pegel semua. Nggak lagi-lagi deh buat nglembur ngetik.
“Cha, kamu nggak kenapa-kenapa kan?” Mita cemas sama aku.
“Nggak kok Mit. Aku cuma lemes kurang tidur. Kamu ada janji sama Ringgo kan? Tuh dia sudah nongol di depan kelas.”
“Tapi kamu gimana?”
“Aku sudah gede kali non. I’m fine. Trust me.”
“Ya udah deh. Ntar aku beliin kamu roti sama minum ya…”
“Yup. Thanks lagi ya. Hehehe.”
Mita sudah berlalu dengan Ringgo. Aku males keluar-keluar. Mau di kelas aja menjamurkan diri. Padahal biasanya kalo istirahat aku kelayapan. Kalo nggak ke kantin ya ngobrol sama Pak Kumis di pos satpamnya. Kalo lagi pengen biasanya juga maen basket sama temen-temen cowok di lapangan. Pokoknya jarang deh kayak gini.
“Apa daya. Badan lemes nggak keruan.”
“Siapa yang lemes?” Tiba-tiba ada suara yang aku kenal baik.
“Eh, Kak Raihan. Hehehe. Ada apa kak?” Malunya aku.
“Kamu lemes ya Cha? Gara-gara ngerjain tugas mading kita?” Tanya Kak Raihan penuh perhatian. Aku kok sudah kegeeran gini ya.
“Iya nih kak. Tapi karena tugas ya mesti dikerjain. Akunya aja yang sukanya lembur.hehehe.....
“Kesehatan juga penting lho Cha…”
“Iya tahu kok Kak. Ini juga lagi istirahat. Biasanya sudah berkeliaran.”
“Kamu ini lemes-lemes masih bisa bercanda ya…” Kak Raihan heran dengan aku. Tapi sosoknya tuh berwibawa banget ya… Sudah cocok buat jadi anak kuliahan. Idaman kaum hawa. Baik, pendiam, postur tubuhnya atletis, kalo senyum manis banget, model rambutnya oke kayak pemain sepak bola favoritku david bechkam tapi bukan yang pas gundul lho. Ditambah dia seorang ketua jurnalis yang tulisannya bukan hanya terpampang di sekolah tapi juga sudah masuk di majalah-majalah remaja yang cukup terkenal.
“Hehehe. Nggak ada yang larang kok kak. Jadi nyantai aja. Ohya kak, ini hasil ketikanku. Kakak aja yang bawa ya.” Padahal aku deg-degan tapi kok ngomongnya bisa lancar kayak gini ya.
“Ya udah. Aku cuma mau ngingetin ntar jangan lupa kumpul buat nempelin mading kita ya…” Senyum Kak Raihan sudah buat aku nggak ngantuk lagi.
“Siap pak ketua!!” Aku bergaya sok hormat seperti ABRI.
“Icha.. Icha.. Semangat terus ya?” Kak Raihan kayaknya suka gayaku. Uhuy…
“Iya kak. Makasih sudah diingetin ya?”
“Ciipzzz…” Kak Raihan berlalu. Tapi sepertinya tadi sempet ngasih kedipan buat aku.
“Ngimpi nggak ya… Hohoho. Senengnya. Jadi nggak ngantuk lagi deh…” Senyum-senyum sendiri deh aku sekarang.
Tugas yang tadi sudah aku buat dengan kecepatan cahaya di perpus akhirnya aku kumpulin. Ini berkat sahabatku Mita yang baik banget. Jam pulang sekolah sudah mau berdentang. Ntar aku nggak bisa langsung pulang coz ada penempelan mading sama anak-anak jurnalis lainnya. Padahal mataku sudah nggak bisa diajak kompromi.
“Kamu nggak ijin aja Cha? Kamu kurang tidur tuh…” Mita sudah siap-siap pulang.
“Nggak Mit. Aku nggak pa pa kok”
“Beneran? Jangan dipaksain ya… Apa ak temenin kamu aja?” Mita tambah mencemaskanku.
“Ya ampun Mit. Kamu tahu aku kan? Aku tuh kayak gatot kaca. Hahaha, otot kawat balung wesi.”
“Kamu tuh…”
“Ya udah pulang gih… Ditungguin Ringgo diparkiran kan?”
“Iya.”
“Ini hari kamis kan? Kok nggak latihan basket?”
“Ringgo ntar juga kesini lagi. Katanya sih baju basketnya di rumah.”
”Halah, ngibul tuh Mit. Dia nggak mungkin lupa kalo ada latihan. Uhm, mungkin dia lagi pengen nganterin kamu aja.”
“Masa sih Cha… Tapi nggak pa pa kan? Latihannya juga ntar jam dua kok.” Mita malu-malu meong.
Mita sudah pulang. Rapatnya masih ntar jam dua. Enaknya ngapain dulu ya… Tadi sudah makan siang. Masa bengong kayak kingkong. Sekolah sudah mulai sepi, tinggal beberapa orang yang kayaknya juga ada ekskul.
“Woi!!” Jeritan yang hamper buat kupingku copot. Kayaknya monster pengganggu dateng deh.
“Ngapain teriak-teriak!! Aku nggak tuli tahu!!.” Lamunanku buyar gara-gara kecoak narsiz ini.
“Enak sih ngusilin kamu. Kok nggak pulang? Diusir dari rumah ya? Makanya kalo dibilangin orang tua tuh nurut…” Wah, sekate-kate nih kecoak. Cowok ini dah bukan kecoak normal lagi kayaknya. Dia sudah mabok kali.
“Heh!! Nggak usah cerewet kayak emak-emak ya… Kamu tuh yang pantes diusir. Gangguin orang aja deh.” Tenaga buat ngomel tinggal dikit coz lemes kurang tidur.
“Hehehe. Jangan marah dong non. Lho! Cha, muka kamu kok lemes?” Tanya dia penasaran. Dia tahunya aku kan beringas setiap saat.
“Kurang tidur. Lagian yang lemes bukan cuma mukaku kali. Tapi badanku juga.”
“Mang tadi malem ngapain aja? Tumben-tumben nih Cha…”
“Buat tugas jurnalis.”
“Jurnalis? Sampe tengah malem?”
“Lewat tengah malem.” Aku betulin ucapannya.
“Waw, kok mau sih? Enakan basket kali Cha… Nggak perlu lembur sampe lewat tengah malem.” Pandu belain basket dengan penuh semangat.
“Jangan samain ma basket dong. Beda lahan perekskulan. Hehehe.”
“Terus sekarang kok nggak pulang? Nggak mau cepet-cepet tidur di rumah?”
“Itulah yang aku inginin Ndu. Tapi ada kumpul jurnalis buat nempelin mading.” Mukaku dah lesu.
“Ijin aja. Aku anterin pulang” Doeng, sejak kapan dia baik sama aku? Ya walaupun jawabannya sejak pertama kali kenal. Tapi kan yang sekarang rasanya aneh.
“Makasih. Tapi sudah telanjur disini kok. Bentar lagi kumpul.
“Ya udah kalo gitu. Ohya, kamu nganggur kan sekarang? Kumpulnya masih ntar kan?” Tanya dia. Enak juga ngobrol sama cowok tengil ini.
“He’em. Mang ada apa?”
“Ikut aku.” Aduh, main tarik tangan aku aja. Ya udah mulailah penculikan gadis manis ini.
Ternyata Pandu ngajak aku ke lapangan basket. Dia nyuruh aku tunggu bentar disana. Dia mau ngapain ya? Mau masukin aku ke ring basket? Mau mendrible aku? Dia nggak nongol-nongol lagi.
“Lama ya nunggunya?”
“Mpe kering nih. Kayak krupuk yang dijemur.” Aku kepanasan sambil kipas-kipas sama tangan.
“Ganti baju sama ambil bola”
“Mang mau ngapain sih Ndu?”
“Main bola biar nggak boring.”
“Hwe!!!”
“Aku ntar ada seleksi masuk basket. Aku juga mau latihan dulu. Daripada liat orang manyun terus ganggu latihanku kan mending aku seret orangnya buat main ma aku.” Buset, emangnya tadi aku manyun ya… Ehm, nggak kerasa.
“Cowok Kejam! Dah tahu aku lemes disuruh main juga.”
“Baru tahu ya kalo aku kejam?” Dia mainin mata jahilnya.
“Awas kalo aku pingsan.”
“Mana mungkin kamu pingsan. Badan kayak Ade Rai kok pingsan. Yuk main… Yang kalah beliin es cream.”
“Es cream? Okey deh. Jadi semangat.”
“Dasar gembul.”
Lima belas menit yang nyenengin. Aku terasa segar kembali. Ya walaupun aku kalah sama dia. Skor 3-10. Ya jelas lah. Dia cowok kok. Masa kalah sama cewek. Keringat bercucuran, badan panas dan kayaknya aku jadi tambah item nih. Ternyata seorang Pandu jago main basket ya… Pantaslah buat masuk tim basket sekolah ini.
“Gimana? Seger kan? Nih minum.” Dia nglempar botol air mineral ke aku. Langsung deh aku abisin tuh minuman.
“Hah! Emang aku nyuruh ngabisin tuh minum? Aku baru dikit minumnya non.” Dia masih kehausan ya? Masa bodoh. Yang nyuruh ngasih minum ke aku siapa?
“Kamu kayaknya nggak haus kok.” Aku tampang muka lugu.
“Ya udah deh. Aku ikhlasin tuh minumku.”
“Ohya, makasih ya sudah diajak main basket. Badanku seger nih.”
“Yup. Sama-sama.” Dia senyum sama aku. Emang nih cowok kalo senyum manis banget.
“Aku kumpul jurnalis dulu ya… Sudah waktunya nih.” Aku pamit sama Pandu yang kayaknya juga temen-temen basketnya sudah pada kumpul diseberang lapangan.
“Siiip.” Dia ngacungin jempol buat aku.
Aku berdiri dan berlalu dari lapangan basket menuju ruang jurnalis. Tapi sebelum aku nyampe tepi lapangan aku di teriakin sama dia.
“Cha!!” Aku noleh ke tempatnya duduk tadi.
“Kamu jago main basket. Kapan-kapan lagi ya… dan jangan lupa es cream buat aku!!” Teriaknya kenceng. Dia nggak lihat temen-temennya melihat kearahnya.
“Iya!!” Aku bales teriakannya.Hahaha. Emang nih lapangan apa hutan kok buat ajang teriak-teriakan.
Langkahku ringan menuju ke ruang jurnalis. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dai belakang. Untungnya bukan malem-malem dan suasananya nggak nakutin. Setelah aku tengok ternyata Kak Raihan. Hari ini hari keberuntunganku apa kesialanku ya… Emang kurang tidur sampe badan ini lemes tapi di hari ini juga aku ketemu sama Kak Raihan sudah dua kali. Kak Raihan lagi yang nyamperin aku. Plus tadi diajakin Pandu main basket dan buat badanku seger lagi.
“Siang Icha!! Kok keringetan?” Tanya Kak Raihan sambil senyum manis.
“Siang juga Kak. Abis main basket.” Bau nggak ya keringetan kayak gini.
“Berarti sudah nggak lemes lagi dong?”
“Iya kayaknya.” Jawabku.
“Lho, kok kayaknya? Nggak pasti gitu.” Kak Raihan nggak tahu aja aku sering nyeplos kalo ngomong.
“Hehehe… Ya udah nggak pake kayaknya deh. Ntar Kak Raihan jadi bingung.”
“Kamu ini sukanya bercanda ya?”
“Suka. Biar awet muda Kak. Hehehe.”
“Jangan ketawa terus Cha. disangka orgil lho!” Orgil disini tuh singkatan dari orang gila. Berarti kalo aku ketawa jelek ya? Kok sampe kayak orang gila.
“Kak Raihan kok ikutan bercanda?” Aku senyum.
“Ketularan kamu nih.” Kak Raihan ngomong sambil garuk-garuk kepala bingung. Apa pura-pura bingung? Apa malah lagi ketombean?
“Emang nggak ada kumpul jurnalis ya Kak?”
“Ada dong.”
“Kayaknya udah telat deh Kak.” Aku pura-pura lihat jam tangan. Padahal aku nggak pake jam tangan. Biar keren aja, pura-pura pake jam tangan. Hahaha
“Eh… Iya ya… Yuk masuk.”
“Oke.” Aku senyum. Seneng bisa ngobrol lama sama Kak Raihan. Terima kasih Tuhan. Hari ini aku bisa tidur nyenyak kalo sudah nyampe rumah.
Akhirnya selesai juga nempelin mading di sekuruh penjuru sekolah. Anggota jurnalis cukup banyak. Jadi cuma butuh waktu satu jam untuk nempel di sekolahan. Mungkin ekskul jurnalis banyak anggota karena ada Kak Raihan. Coz alasan aku pun juga karena Kak Raihan.
“Hei!!” Ada yang menyapa aku dari belakang. Hari ini aku laris banget ya… Dari tadi pagi dipanggil-panggil orang terus. Setelah aku tengok ternyata si Pandu.
“Kamu sudah selesai latihan basket?”
“Udah lah. Kalo nggak aku nggak disini dong” Cerewet banget nih cowok.
“Oh… Terus hasilnya gimana? Keterima jadi anggota basket?”
“Menurutmu gimana?” Dia kedip-kedipin mata kearahku.
“Nggak tahulah. Tapi kayaknya kamu seneng. Jadi jawabannya keterima. Bener nggak?”
“Anak pinter.” Dia ngucel-ucel rambutku.
“Berantakan nih rambutku.” Aku tepis tangannya terus aku rapiin lagi rambutku.
“Hehehe. Mau pulangkan? Mau bareng? Aku juga mau pulang nih.” Dia ngajakin aku pulang bareng. Wah, hari ini emang hari keberuntunganku.
“Bener nih gratis? Mau deh kalo gitu.”
“Iya lah. Emangnya aku part time jadi ojek?”
“Ya udah. Ayo pulang sekarang. Aku sudah ngantuk nih.”
“Weleh-weleh, sabar atuh non. Tapi jangan lupa ma es creamku lho!!” Aku tarik-tarik tangannya menuju ke parkir motor.
“Iya.. Iya..” Jawabku mengiyakan. Dalam hatiku kecilku kalo uang jajanku sisa lho!!
Hari minggu gini enaknya emang baca komik di balkon rumah. Ditambah ada angin segar yang menerpa wajah. Tempat favorit aku selain di kamar ya di balkon. Dari sini aku sering ngintipin tetangga-tetangga aku. Bukan ngintip tetangga lagi mandi lho… tapi ngintipin aktivitas mereka. Kalau weekend nggak ada acara aku suka banget duduk-duduk di balkon sambil baca komik kesayanganku. Kadang saking enaknya malah sampe ketiduran. Di rumahku cukup nyaman. Memang di tengah kota. Tapi aku senengnya rumahku nggak dekat sama jalan raya. Jadi suasana untuk santai tuh nggak terganggu.
“Icha, lagi ngapain di balkon?” Ibuku dateng. Ibuku cantik banget. tapi kok nggak nurun ya ke anaknya.
“Biasa Bu, lagi baca komik. Kan weekend.” Jawabku sambil tetep baca komik.
“Nggak ada acara sama temen-temen?” Tanya sang Ibu. Heran deh kalo di rumah ditanyain mau pergi nggak, kalo pergi ditanyain kapan di rumah. Huuf.
“Nggak Bu. Ibu nggak jalan-jalan sama ayah? Kan mumpung Ayah lagi libur Bu.” Tanyaku balik.
“Ibu sama Ayah di rumah aja. Ayah kan biar santai-santai di rumah. Ohya Cha, kamu di cariin temenmu tuh.” Ibu aneh banget. Sudah tahu aku ada tamu kok diajak ngobrol dulu.
“Mita ya Bu?” Tanyaku lagi.
“Iya. Sama ringgo juga. Ada satu lagi cowok, cakep lho Cha. Kalo cari cowok cakepnya kayak gitu Cha.” Ini nasehat apa cuma maunya Ibu aja ya punya calon mantu yang cakep.
“Ibu ini gimana sih. Mau kalo cowokku cakep ya... Tapi kalo cowoknya nggak baik mau?” Aku protes sama pendapatnya Ibu.”
“Ya jangan Cha. Cari yang baik luar dalem.”
“Ibu ini ada-ada aja. Aku nemuin mereka dulu ya Bu.” Aku tinggalin Ibu di balkon dan menuju ruang tamu.
Di ruang tamu sudah ada Mita, Ringgo sama Pandu. Ibu tahu aja kalo ini cowok cakep. Tapi Ibu nggak tahu aja kalo ini cowok juga jahilnya diatas normal.
“Belum dibuatin minum ya?” Tanya aku sambil turun dari lantai atas.
“Kelihatannya gimana non? Kok lama banget sih?” Pandu cerewetnya kayak emak-emak.
“Bentar ya tak buatin.” Aku pura-pura nggak dengerin Pandu ngomel.
“Aku ikutan ya Cha…” Mita ngikutin ke dapur.
Setelah di dapur Mita bantuin aku buat minuman.
“Cha! Hari ini ada acara nggak?”
“Nggak ada Mit. Tadi aku lama tuh gara-gara Ibu ngobrol dulu sama aku. Ibu nggak langsung bilang kalo ada kalian.”
“Oh tak kirain ada acara. Kamu tadi di balkon kan?”
“Iya lagi baca komik. Aku kok nggak liat kalian ya.”
“Kamu kalo dah baca komik kan lupa segalanya.” Mita jujur banget.
“Hehehe…”
“Yuk ke ruang tamu. Kayaknya mereka dah kehausan.” Ajak Mita. Aku juga nggak mau si Pandu ngomel-ngomel lagi.
“Yuk.”
“Minuman sudah siap.” Aku sama Mita ngomong bareng. Lucu juga kayak film kartun aja.
“Kamu bisa ikut kita nggak Cha?” tnya Ringgo.
“Aku sih nggak ada acara. Mang pada mau kemana sih?” Aku penasaran.
“Mau ke pantai. Kan Ringgo ulang tahun.” Mita ngasih penjelasan.
“Hwe? Ini tanggal berapa sih? Ohya, 15 Februari ya…” Aku masih bengong. Merasa bersalah lupa ulang tahun Ringgo.
“Iya. Mang yang kamu inget-inget tuh apaan sih? Ulang tahun orang yang dianggap kakak aja lupa.” Pandu emang bener. Tapi kan bukan keinginanku untuk lupa.
“Maaf ya Nggo. Met ultah ya… Ntar kadonya nyusul deh. Hehehe.”
“Nggak apa-apa kok. Makasih ya Cha. Tapi kamu harus ikut kita lho. Nggak boleh nggak.” Ringgo baik banget. Makanya Mita betah pacaran sama dia.
“Siiiippp lah.”
Perjalanan ke pantai sangat mengasyikkan. Cuacanya juga mendukung. Cerah dan semoga ntar juga cerah. Kami naik mobilnya Ringgo. Tepatnya sih mobil nyokapnya. Ringgo biasanya naik motor. Tapi sekali-kali naik mobil kalo nyokapnya lagi nggak ada kerjaan. Kami nyanyi ngikutin suara mp3. Mungkin suara kami bagi pendengar yang lain bisa membuat ketulian sesaat. Jadi bisa dibayangkan bagaimana suara kami. Setelah perjalan satu setengah jam lebih kami sampai juga di pantai. Kayaknya seru nih, coz pantai nggak rame-rame banget. Kami bisa bebas main tanpa gangguan.
“Hore akhirnya nyampe juga.” Aku dan Pandu barengan ngomong. Kami saling lihat.
“Kok bareng-barengan?” bibrku dah manyun-manyun.
“Jodoh kali.” Dia keluar dari mobil sambil menenteng tasnya.
“Nggak mungkin.” Jawabku kesel.
“Hahaha. Kalian lucu banget sih. Kadang berantem, kadang rukun. Nggak konsisten nih.” Ringgo heran dengan keadaan ini.
“Jodoh kali.” Mita menambahi sambil senyum kearahku. Dan aku jadi tambah kesel tapi nggak mau lama-lama coz dah nyampe pantai dan kami harus seneng-seneng disini.
“Nggak mungkin lah.” Jawabku asal.
Suasana pantai emang top banget deh. Mita dan Ringgo sudah berlarian ke pantai. Mereka kayak bebek aja. Langsung seneng kalo liat air. Si Pandu nggak tahu kemana dan aku nggak ada urusan sama dia. Aku mau duduk-duduk dulu ah sambil foto-foto. Pemandangannya emang bagus banget. Pasir putih di sela-sela kakiku, ombak yang berisik menerpa bibir pantai, matahari yang membuat suasana semakin hangat, birunya laut yang nggak mau kalah sama birunya langit, perpaduan yang indah, yang mempesonakan mata kaum manusia. Apa lagi ditambah objek dua pasang kekasih yang lagi dimabuk asmara. Ya siapa lagi kalo nggak Mita dan Ringgo. Mereka sekarang lagi menikmati cinta yang dikaruniakan Tuhan.
“Kok nggak ikutan mereka?” si Pandu dateng sambil membawa dua kelapa muda yang kayaknya seger banget.
“Ntar. Aku lagi mengabadikan moment. Ada objek yang bagus.” Aku lagi nggak mau usil-usilan sama Pandu.
“Oh… Mereka maksudmu?” Aku mengangguk sambil membidik objek.
“Kamu nggak ikutan mereka? Tadi juga kamu menghilang kemana?” Aku sekarang mau jadi teman yang baik.
“Habis beli kelapa muda nih. Haus.” Dia minum tuh kelapa muda nggak bagi-bagi sama aku yang dari tadi kehausan.
“Yang satu buat siapa?” Aku penasaran. Masa dia tega sama temennya yang lagi kepanasan dan kehausan ini.
“Buat aku semuanya. Satu nggak cukup buat aku.” Dia minum sambil lihat pantai. Nggak lihat apa kalo temenmu ini kehausan.
“Kamu nggak haus? Biasanya kamu langsung menyerbu kalo ada orang bawa yang enak-enak.” Dia sudah mulai judes. Hilang deh niatku buat baik-baikan sama dia. Aku jalan menjauh dari dia.
“Lho!! Mau kemana Cha?” Dia lari ngejar aku.
“Mau ngejauh dari kecoak.” Jawabku singkat.
“Yee.. Kok marah sih.” Dia tetep ngikutin aku.
“Ngapain marah sama kecoak. Kalo marah kan tuh kecoak tinggal diinjek aja.” Aku berjalan dengan cepat menghindar dari dia.
“Aku Cuma bercanda kok Cha…” dia kewalahan lari sambil bawa dua kelapa muda ditangan.
“Nggak penting.” Aku manyun. Capek sih lari-lari terus.
“Ini buat kamu kok Cha. Nggak kenal aku aja suka godain kamu. Habis kamu lucu sih.” Pandu menyetop lariku dengan berdiri di depanku.
“Tadi katanya.....” aku bete digodain terus.
“Hehehe. Aku mang punya tampang pelit ya Cha? Nih buat kamu. Tadi sih niatnya cuma ganti celana pendek. Tapi pas aku lihat kamu duduk sendiri, terus aku beli deh kelapa muda ini.” Jelasnya panjang kali lebar.
“Seneng banget sih buat orang kesel.” Aku minum kelapa muda yang dikasih Pandu. Seger banget tenggorokanku. Hilang deh yang namanya haus.
“Emang.” Dia juga minum kelapa mudanya sambil kedip-kedip ke aku.
“Dasar. Tapi makasih ya… Aku haus banget.”
“Iya tahu. Wong kamu ja sampe marah kok sama aku gara-gara kelapa ini.” Pandu nunjuk-nunjuk kelapa muda yang dibawanya.
“Ohya, gimana ekskul kamu? Sudah tahu belum kalo kapten basketnya tuh Ringgo?” Aku mau bahas topik lain. Nggak mau bete-betean lagi.
“Tahu dong. Dia sendiri kok yang nguji aku. Aku ma Dia tanding. Tapi menang aku.”
“Masa sih? Dia ngalah doang kali.”
“Nggak tahu. Emang dia kali yang nggak bisa ngalahin aku.” Sok gaya banget nih cowok.
“Geer banget.”
“Ohya, katanya Ringgo kamu dulu mau masuk tim basket tapi nggak jadi ya? Terus malah milih jurnalis.” Tanya Pandu penasaran. Sekarang dia menatap mataku. Dia mau mastiin kali kalo dia serius bertanya.
“Iya. Aku nggak jadi masuk tim basket. Aku cuma mikir pengen punya kegiatan yang beda aja. Kalo basket aku juga masih sering kok main di lapangan deket rumah.”
“Gara-gara di jurnalis ada Kak Raihan ya? Cowok yang kamu suka.” Cerewet banget sih cowok ini. Heran deh.
“Itu salah satu alasan. Tapi itu bukan alasan utama.”
“Bohong. Aku tahu kamu seneng banget dengan basket. Kelihatan pas aku sama kamu tanding kemarin-kemarin.” Pandu sok tahu.
“Aku emang seneng banget kok sama basket. Aku cuma mau belajar yang lain.” Aku nggak suka disalahin.
“Ya udah kalo gitu. Berenang di pantai yuk?” Ajak si Pandu sambil nunjuk-nunjuk dua orang yang masih asyik basah-basahan.
“Aku nggak bawa baju renang.” Aku masih bingung sama kata-kataku sendiri.
“Emang Mita bawa? Nggak kan? Sudah lah nggak usah dipikirin. Kamu milih sesuatu itu pasti karena kamu juga suka kan? Jadi sekarang bukan saatnya mikir hal yang berat-berat ntar ombaknya ngamuk lho kamu cuma lihat dia tapi nggak buruan main sama tuh ombak.” Aku ditarik sama Pandu menuju ke Mita dan ringgo. Kami seneng-seneng disana sampe sore. Kami pulang dengan hati yang bahagia. Dan nggak lupa pulangnya kami makan-makan dan semuanya ditraktir Ringgo. Emang ini yang kutunggu-tunggu. Makan gratis sampe kenyang.

Senin, 09 Januari 2012

Novel: tak berjudul part 1


Awal pertemuan

“Huuh, setiap pagi kerjannya nungggu angkot aja. Kapan ya bisa naik motor sendiri ke sekolah? Angkot Bang!!” Aku biasa naik angkot. Tapi kayake ntar nyampenya rada telat deh. Macetnya kayak antre sembako gini. Semoga ntar satpam yang jaga pak Kumis. Pak Kumis adalah satpam yang baik banget ke aku. Karene kita ada kontak batin. Hehehe, gak ding. Cuma dulu pas aku masih suka dijemput biasanya nunggunya sambil ngobrol-ngobrol ma Pak Kumis dulu.
“Bang stop Bang!! Makasih ya Bang.” Pintu gerbang sudah ditutup rapat. “Pak bukain dong baru bentar nich telatnya.” Aku pasang tampang sedih dan mata berkaca-kaca.
“Nggak bisa mbak. Saya nggak berani, saya satpam baru” jawab pak satpam dengan sopan.
“Pak Kumisnya mana? Biasanya kan yang jaga Pak Kumis” Aku clingukan mencari satpam kesayanganku.
“Saya nggak kenal pak Kumis mbak, saya satpam baru” jawab satpam itu jujur.
Waduh, alamat dapat point lagi nich. Apa malah dapat hukuman. Tuhan apa yang harus aku lakukan. Secara Omku tuh Kepsek disini. Bisa-bisa dijewer nich kupingku yang baru ja minggu kemaren sembuh dari jeweran maut omku.
“Icha!! Telat ya?” Tanya cowok yang juga telat.
“Dah tahu masih nanya juga.” Bibirku dah monyong-monyong tanpa terasa.
“Mau dibantuin masuk?” Matanya sambil kedip-kedip gak jelas.
“Boleh. Mang gimana cara masuknya?” tanyaku penasaran.
“Ntar deh kamu terima beres aja.” Jawab cowok itu sambil nyengir.
“Bang sini deh aku mau ngomong bentar” cowok itu melancarkan aksinya.
Cowok itu emang bukan teman sekelas aku. Aku kenal sih ma tampangnya. Tapi kalo ama namanya aku gak inget apa-apa.hehehe,maklum ingatanku cetek. Uhm, tapi kayaknya aku nggak pernah ketemu ma cowok ini di sekolahan deh. Dimana ya…. Aduh, emang ingetan cetek kok digali-gali aja. Apa yang harus aku lakuin kalo bicara ma dia!! Masa nggak panggil namanya? Masa manggilny mas? Kapan dia jadi sodara aku? Bbbrrr, masa bodoh ah. Yang penting aku bisa masuk sekolah dengan selamat.hahahaha….
“Beres. Ayo masuk!!” ajak cowok itu sambil senyum lebar.
“Makasih ya” aku sambil senyum lebar juga. Ketularan cowok itu kayaknya deh.
“Yup…sama-sama. Nama kamu icha kan?” Tanya cowok itu.
“Iya” sambil pasang muka lugu (kayak gimana ya)
“Dah tahu nama aku?” Tanya cowok itu lagi.
“Uhm, kayaknya sih nggak. Hehehe” aku sekarang malah pasang muka blo’on. Blo’on adalah keahlianku(lho!!)
“Hahaha,iya ya kamu belum kenal aku. Aku kan anak baru.” Cowok itu nyengir.
“Eh, dah dulu ya…. Takute dah ada guru yang nunggu di dalam kelas.” Aku langsung tancap gas ke kelas aku. Nggak sempet lihat cowok itu. Uhm, kayaknya dia ngelus-ngelus dada sambil bilang namaku aja belum aku sebutin dia dah kabur. Biarin aja, yang penting aku menyelamatkan diri dulu dari siksa guruku. Ahay… Kelas pertama adalah pelajaran kesukaanku, pelajaran Olahraga. Kekekekekeke
Jam istirahat berdentang. Nggak kalah perutku juga berdentang.hohohoho. Aku dan Mita berlari bergandengan tangan menuju kantin. Kayak film-film India aja ya… tapi nggak pake selendang ma lari- larian dipadang rumput lho!!
“Mit, kamu laper nggak? Kok kayaknya masih semangat gitu?” Tanya aku penasaran.
“Yee, aku mah laper banget Cha!! Aku dah nahan-nahan dari pelajaran sejarah tadi” jawabnya sambil menyambar mendoan yang hangat-hangat.
“Lha kok nggak lemes gitu sich??” aku masih penasaran.
“Hehehe, ya semangat lah…. Ada cowok idamanku tuh” Mita sambil malu-malu kucing. Kucing pa macan nich?? Malu-malu kok sambil nyamber mendoan.
“Si Ringgo ya? Mana orangnya?” aku clingukan.
“Tuh dia… Mang sich masih jauh. Hehehe, namanya juga kekuatan cinta” Mita tetep menyambar mendoan yang hangat-hangat itu. Kayaknya dia lebih memilih mendoan dari pada Ringgo pacarnya deh. Coba aja tes. Tapi aku belum menemukan tes apa yang cocok buat ngetes Mitha.
“Ohya Mit, aku tadi telat lho… tapi ada cowok yang telat juga dan berhasil ngrayu satpam. Akhirnya aku dan dia diijinin masuk deh.” Cerita aku sambil ikut-ikutan ambil mendoan.
“Lha emang Pak Kumis kemana?” Tanya mita
“Nggak tahu” jawab singkatku.
“Lagi laper banget ya Mit? Kamu juga ya Cha?” Tanya Ringgo yang sudah nyampe kantin.
“Hehehe, iya nich Nggo! Ntra kamu yang traktir ya?” pinta Mita sang pacar Ringgo.
“Weleh, kok aku yang bayar?? Ohya nich, ada teme baru kita namanya Pandu. Pindahan dari Semarang”
“Kamu kan yang tadi…” aku cuma bengong.
“Iya yang tadi. Yang nggak jadi nyebutin nama gara-gara ada cewek yang takut telat.” Jawab Pandu sambil senyum jahil.
“Maaf ya…tadi aku buru-buru” aku tetep makan tuh mendoan.
“Nggak apa-apa kok. Kamu kelaparan ya?? Dah abis berapa mendoan??” Tanya Pandu sambil kedip-kedip nggak jelas. Kelilipan kayaknya ya…
“Aku abis 4. Mita abis 3. aku es teh 1. Mita es sirup 1. mau bayarin? Ngomongku asal.
“Iya deh aku bayarin. Hehehe, itung-itung salam perkenalan” Pandu tetep pasang senyum. Nggak takut apa giginya kering? Tapi lumayanlah dapat traktiran. Tahu gini dia pesen bakso aja.
“Mita ini pacarnya ringgo ya?” Tanya Pandu. Menurutku untuk ukuran cowok dia cerewet banget.
“Iya aku pacarnya. Sudah jadian setengah tahun” Mita jawab sambil senyum manis.
“Kalo Icha sudah punya cowok?” tuh kan cerewet banget.
“belon” jawabku singkat.
“Aku mau ke kelas dulu ya Mit! Ada tugas yang belum aku kerjain.” Pamitku sama Mita yang kayaknya masih betah dikantin sama pujaan hatinya.
“Aku boleh ikut? Boleh lihat kelasmu?” pinta Pandu.
“Terserah” Aku jalan ke kelas. Jalan tapi sedikit berlari. Pandu kayaknya juga ngikutin gayaku. Apa kata temen-temen ya? Icha berlari-larian dengan cowok cakep di koridor sekolah. Hahaha, emang sich cakep kayak pemain sinetron. Tapi tengilnya minta di cukur tuh rambut sampe botak. Kalo botak kayak gimana ya? Lucu kali.
“Dah nyampe kelasmu ya Cha?” Tanya Pandu sambil melet-melet kecapekan. Ini kecapekan atau kehausan ya.
“Iya. Sudah tahu kelasku kan?” aku juga melet-melet dan keringetan.
“Kamu nggak ngerjain tugas beneran kan?” Tanya dia lagi.
“Nggak” singkat padat dan jelas. Sudah ketahuan bohongku.
“Ngobrol dulu dong Cha… Aku kan anak baru, belum banyak temen. Lagi proses cari temen di sekolahan ini. Kamu mau kan jadi temenku?” Pinta Pandu sambil pasang senyum mautnya.
“Ya udah. Mau ngobrol dimana? Disini aja ya… Aku capek nich abis lari-lari.” Aduh, aku malah ngiyakin. Uhm, nggak apa-apa deh. Dia tadi juga sudah traktir aku kok.
“OK!” Pandu senyum kayak anak kecil dikasih mainan.
“Cha! Suka basket nggak?” pertanyaan pertama.
“Nggak. Bisa sih maen basket. Tapi sekarang lagi suka nulis.”
“Menurut kamu aku cocok nggak ikutan ekskul basket.” Pertanyaan kedua.
“Cocok. Kamu nggak pendek-pendek banget kok. Tapi kayaknya susah buat masuk tim inti. Coz tim basket sekolah ini bagus banget.”
“Ya… namanya juga nyoba kok Cha…. Kamu jangan nurunin semangat aku dong.”
“Hehehehe, iya ya… Tapi kan aku ngomongnya jujur dari dalam hati.” Nggak sengaja aku melihat ada sosok yang aku kenal yang berjalan di pinggir lapangan. Dan ternyata benar itu Kak Raihan cowok yang aku kagumi.
“Aduh, ada Kak Raihan. Gimana nich? Eh, kamu kan gede, tutupin aku ya?” aku bingung plus malu. Tahu deh mukaku merahnya kayak gimana.
“Raihan siapa?” Dia lihat Kak Raihan yang lewat.
“Itu Kak Raihan? Yang lagi jalan di pinggir lapangan basket? Dia cowok yang kamu suka?” Pertanyaan ketiga.
“Nggak!! Itu Om-om yang mau nagih hutang ke aku.” Wajahku sudah kayak udang rebus.
“Hwahahaha, Om-om? Emang pantes tuh. Gayanya ja sudah tua gitu.”
“Om Raihan!! Icha ada disini lho!! Katanya dia belum ada uang buat bayar hutangnya!!” Usilnya si Pandu. Tapi bicaranya pelan. Sampe bicara keras-keras, dia nggak akan bisa masuk kelasnya dengan selamat. Karena akan dapat tendangan maut dari Icha.
“Hei! Jangan gitu dong… Malu tahu.” Sekarang aku manyun-manyun. Nggak tahu deh tampangku kayak gimana.
“Hehehe, nyantai dong… Nggak kedengaran kok. Jangan manyun gitu… Tambah jelek tuh.” Godanya si Pandu yang super nyebelin.
“Imutnya gini dibilang jelek.”
“Hwe? Imut? Yang mana yang imut? Mau dong kenalan sama dia.” Pandu clingukan kayak nyari seseorang.
“Yang imut aku tahu. Eh, dah bel tuh…” Ku dengar bunyi bel berdentang.
“Iya ya… Aku ke kelas dulu ya yang katanya imut!! Salam buat Mitha.” Pandu akhirnya berlalu.
Pelajaran matematika yang dua jam rasanya kayak dua hari nggak selesai-selesai. Dari tadi dengerin Bu Lina njelasin soal Aljabar kok yang aku dapat malah sebait puisi ya… Hehehe, maklum lah yang lagi belajar nulis. Pengen belajar nulis gara-gara kenal dengan cowok yang bernama Raihan. Dulu pas pertama kali masuk sekolah ini aku pengennya sih ikut ekskul basket. Sudah ditawarin ikut tim inti lagi. Tapi aku kok bisa ya milih ekskul jurnalis? Padahal yang namanya tulis menulis tuh males. Bisa sih… Tapi males aja. Tapi setelah pengenalan semua ekskul!! Ahay, ternyata yang menarik itu cuma Kak Raihan. Apa aku sudah bosen dengan yang namanya basket ya? Masa sih… Nggak mungkin lah. Setiap ada waktu aja aku selalu maen basket ma temen-temen satu kompleks kok. Dulu waktu SMP juga jadi tim inti.Wew, apa ini yang namanya cinta? Ahahaha
Tapi kenapa puisi ini bukan tentang Kak Raihan ya? Puisi ini malah menceritakan pertemuanku sama Pandu. Si usil nyebelin yang sudah traktir aku ma Mitha.

Teman?

Pertemuan pertama di gerbang sekolah
Tapi kurasa bukan
Sosokmu tak asing bagiku
Apa cuma perasaan sang pujangga ini?
Yang terlalu banyak bermain dengan kata
Parasmu rupawan
Gayamu menawan
Hanya tingkahmu yang menyebalkan
Menyebalkan? Kapan?
Dia begitu baik padaku
Ah, pentingkah itu?
Teman
Semoga teman sejati yang kudapat dari dia

“Puisi lagi ya Cha?” Mitha ngagetin aku.
“Hehehe, iya nich… Tapi masih belum mahir Mith.” Bisik aku.
“Kamu sudah berusaha kok Cha. Tapi ada kemajuan kok. Kamu sekarang lebih puitis dari pada dulu yang kerjanya ceplas-ceplos.” Jahatnya sahabatku ini bilang kalo aku dulu ceplas-ceplos. Tapi emang sich.. dulu aku tomboy abis.
“Emang sich.”
“Kayaknya sudah waktunya pulang ya Mith? Kok nggak bel-bel ya… sudah bosen nich aku.” Tampang muka melas banget.
“Paling bentar lagi kok” Mitha menenangkan sahabanya yang kelaparan pengen makan dirumah.
Akhirnya bel berbunyi. Anak-anak sekolah kembali mendapatkan semangatnya. Ada yang lari-larian ke parkir motornya. Uhm, mungkin dia kelaparan dan pengen segera pulang ke rumah. Itu kan aku!! Hehehe, laper banget nich. Aku pamit sama Mita dan Ringgo buat menyetop angkot di depan sekolah. Enaknya Mita yang dianter jemput Ringgo. Paling dalam seminggu Mitha naek angkot Cuma dua kali. Itupun karena Ringgo ada ekskul basket. Secara dia penyerang dengan nomor punggung 7 yang diidolain adik-adik kelas. Mereka berdua emang serasi. Dulu waktu SMP Ringgo sich emang naksir aku. Bbbrrr, untuk menghidarinya aku kenalin aja ma Mitha. Hehehe, ternyata mereka langgeng sampe sekarang. Ringgo emang dewasa. Aku suka ma dia tapi sebagai kakak. Aku nggak mau kehilangan sosoknya sebagai kakak.
Well, aku sudah di depan gerbang buat menyetop angkot. Tapi kok nggak nongol-nongol ya tuh angkot…
“ Cha!! Mau pulang? Naik apa?” Yap, pengganggu perut keronconganku datang. Siapa lagi? Pandu menghampiri aku. Pengennya sih lari. Tapi kalo ntar ada angkot kan sia-sia perjuanganku ngetem disini.
“Nggak lihat nich!! Lagi nyetop angkot. Aku mau pulang. Dah laper” omongku panjang lebar.
“Aku anterin aja gimana? Rumahmu dimana? Mumpung nggak ada yang nebeng nich” Pandu emang suka kedip-kedip nggak jelas ya… Apa emang dia punya penyakit mata yang akut? Aduh, aku malah mikir yang aneh-aneh gara-gara ini cowok aneh yang anehnya melebihi standard.
“Rumahku di daerah Pahlawan. Emang kamu lewatin?” Sok ketus. Tapi kayaknya nggak banget. Aku biasanya tipe-tipe orang yang ramah kok. Tapi nggak tahu nich… Kalo sama Pandu aku jadi sok jutek.
“Lewat kok. Yuk naik. Katanya Mitha kamu sudah kelaparan.” Pandu ngidupin motor sambil pake helm gedenya. Eh kebalik, ngidupin motor gedenya sambil pake helm.
“Kapan kamu ketemu Mitha? Dia kan lagi sama Ringgo.” Aku malu ketahuan kalo perutku dah keroncongan.
“Tadi aku kan ke parkiran motor sama Ringgo. Mita sudah ada disana. Aku tanya tentang kamu. Katanya kamu lagi nunggu angkot pengen cepet pulang coz kamu dah kelaparan.” Cengiran jahil si Pandu nempel di senyumnya.
“Oh….”
“Oh apa? Pengen cepet pulang kan? Cepet naik!” Ajak Pandu yang nggak sabaran.
Naik deh aku ke motornya. Lumayan lah ngirit uang transport. Hahaha….
“Ohya Ndu… Aku mau tanya boleh nggak?” Tanya aja kok izin dulu ya… biasanya juga aku tinggal nyeplos gitu.
“Boleh. Tanya apa? Asal jangan yang ngagetin aja. Bisa-bisa aku kaget terus aku ma kamu jatuh dari motor. Mau?” Ceplos Pandu seenaknya.
“Lho! Kok gitu? Dah lama kan kamu bisa naik motor? Jangan-jangan kamu baru kemaren ya bisa naik motornya?” Aku beneran takut kalo emang dia nggak jago naik motor.
“Iya kali. Hehehe.” Kayaknya sih cuma bercanda.
Plaaakk!! “Yang bener dong Ndu… Nyawaku sebagai taruhannya nih!!”
“Aduuhh, jangan getok-getok helm orang dong… Sakit tahu.” Rengekan Pandu nggak aku gubris. Hahaha.
“Ya abis kamu baru bisa naik motor dah sok jago nyuruh orang nebeng!!” Aku panic. Pengen lompat membebaskan diri dari sopir amatiran ini. Tapi aku belum latihan bagaimana lompat dari motor dengan selamat (Apa ada ya? Latihan sama siapa?)
“Hallo!! Tadi tuh nggak serius kali non…”
“Beneran?”
“Iya non Icha!! Aku dah bisa dari aku lahir. Kemarin aja aku ditawarin nggantiin Valentino Rossi buat balapan.”
“Yeee…. Kalo itu mah bohong abis!! Aku bukan anak kecil yang bisa dibohongin. Ya, walopun anak kecil juga sudah tahu kalo itu bohong. Dasar kamu tuh bokis abis.”
“Lha kamu tadi gampang banget dikibulin.” Ohya, tadi mau nanya apa?”
“Ohya, sampe lupa… Gini, apa kita dah pernah ketemu?” tanyaku langsung to the point.
“Pernah.” Jawabnya singkat.
“Kapan?” Tanyaku yang juga singkat.
“Di Alam lain. Percaya?” kelakar nggak bermutunya Pandu keluar lagi.
“Serius dong Ndu!!”
“Pernah. Tapi pikir aja sendiri ya…”
“Lho!! Kok gitu sih?” Aku Manyun penasaran.
“kayak lagunya Dewiq aja. Hehehe.”
“Nggak lucu!!”
“Rumahmu yang mana to Cha? Ini dah nyampe jalan Pahlawan lho… Apa mau ikut ke rumahku?”
“Enak aja ikut ke rumahmu. Itu tuh… Gang depan masuk aja. Dah mau nyampe kok. Kamu masih hutang satu pertanyaan sama aku lho!! Inget tuh…” Gayaku sok ngancam.
“Aku nggak wajib jawab kok. Weeeekkk.”
“Dasar jelek lu…” Maksa banget bilang jelek.
“Biarin. Yang penting banyak yang suka. Hahaha.”
“Ndu, tuh rumah aku. Rumah yang catnya ijo.” Aku nunjuk rumah kesayanganku. Yaiyalah, rumah satu-satunya gitu.
“Ciiippzzz, kapan-kapan aku sama Ringgo boleh main kan?”
“Ringgo sama Mitha sering kok main ke rumahku. Kalo tambah kamu juga nggak apa-apa. Makasih ya tebengannya.” Aku sudah bisa senyum coz inget kebaikan orang. Kasihan kan kalo di jutekin mulu. Bisa-bisa ntar dia ngadu sama ibunya. Hehehe. Dah gede kali!!
Hari senin biasanya anak SMA masuk lebih awal. Karena nggak boleh telat buat ngikutin upacara bendera. Yup, kalo hari senin aku dari rumah jam setengah tujuh. Nggak kayak hari biasanya jam setengah tujuh lebih sepuluh menit. Hehehe. Aku nggak mau aja angkot langgananku kena macet terus aku harus ikut upacara dan berbaris di depan sendiri. Plus barisnya deket sama bapak ibu guru lagi. Apa kata pak Kepsek yang Omku tuh. Masa keponakan tersayang baris disana. Aku nggak mau buat Om Sony malu. Ya walapun kadang-kadang Om Sony sering ngingetin  agar aku jadi gadis manis yang nggak ceplas-ceplos sama temen dan guru-guru.Wah, susah Om!! Sudah bawaan orok.
Setelah jam tujuh kurang lima bel berdentang dengan kencengnya. Murid-murid pada berlarian ke lapangan buat ngikutin ritual hari senin. Untungnya aku tinggi ya… Aku barisnya paling belakang dalam barisan cewek. Uhuy, Mitha juga ada disampingku setia mendampingi. Wew, nggak juga sih. Dia meninggalkanku kalo lagi berduaan ma Ringgo. Yaiyalah Cha!! Kalo bertiga aku ntar dikira anaknya yang sudah tumbuh dewasa melebihi bapak dan ibunya. Kekekekeke. Yah, walopun mereka sering ajak aku nongkrong bareng bertiga. Asal aku nggak ganggu sih nggak masalah. Tapi aku selalu ganggu mereka. Kalo tertawa aku yang paling keras, kalo makan aku yang paling cepet abis dulu, kalo Mita ditraktir Ringgo, aku juga ikut kecipratan ditraktir juga. Apa itu yang namanya ganggu mereka? Ckckckck, tapi aku senang mereka nggak protes sama sikapku. Sikap sobatnya yang unik. Unik tapi berkelas. Kelas berapa ya….
Setelah sepuluh menit berlalunya upacara bendera yang hikmat, aku lihat sosok Pandu ikut berbaris di sebelah guru. Tahu apa artinya? Yup, dia telat masuk. Uhm, temen-temenku pada berisik. Saling bertanya siapakah Pandu itu. Ya wajar sih, mukanya asing di mata mereka gitu lho! Kecuali mataku kayaknya. Hohoho. Dalam hati kecilku, syukurin telat!! Kemarin nggak jawab pertanyaanku sih. Uhm, dosa nggak ya ngomongin orang dalam hati. Tapi kayaknya dosanya sama kayak temen-temenku yang juga ngomongin siapakah Pandu itu.
Huuh, hari senin emang melelahkan. Untungnya bel pulang sudah berdentang.
“Mit, ke kantin dulu yuk? Haus nich. Mau nggak?” Rengek seorang sahabat yang kehausan
“Okey deh. Aku sms Ringgo dulu ya?”
“Ciiippzz. Sambil jalan aja yuk… hehehe, haus banget soalnya.”
“Iya.”
“Bu, es campurnya dua ya… Kamu mau kan Mit? Aku yang traktir kok.” Jarang-jarang traktir diomongin. Hehehe.
“Wah, jarang-jarang nich… Boleh-boleh. Lumayan haus juga. Kamu nular-nularin orang aja.”
“Kamu aja yang suka niru aku. Hehehe. Ringgo nyusul kesini?”
“Iya kali. Cha!! Aku sama Ringgo dah setengah tahun lebih ya… Nggak kerasa deh.” Mita senyum-senyum sendiri. Eh, senyum sama aku ding. Akunya aja yang terlalu bersemangat melahap es campur Bu Tuti.
“He’em. Nggak terasa juga aku sudah berteman baik sama kalian berdua.”
“Cha, makasih ya sudah ngenalin aku sama Ringgo.” Senyumnya kayaknya tambah lebar deh.
“No problem. Emang dia sudah jatah kamu kali Mit.” Tetep aja suka ceplas ceplos ya aku ini. Ckckckck.
“Dulu kan seharusnya dia jatah kamu Cha. Hehehe.”
“Dia tuh sudah kayak abang aku sendiri kali Mit.” Aku nyerocos nggak karuan.
“Tapi dulu kok dia nembak kamu ya…” Mita kayaknya masih penasaran sama masa lalu. Aku aja sudah nglupainnya kok.
“Kesambet kali.”
“Yee, kok gitu. Dia tuh orang yang penuh dengan perhitungan.”
“Iya emang dia jagonya matematika. Sukanya ngitung mulu. Uhm, tapi kamu emang sudah kenal baik sifatnya ya”
“Lumayan lah Cha.”
“Aku juga nggak tahu. Yang penting sekarang kan dia sudah tulus sayang sama kamu Mit.”
“Masa lalu nggak perlu diinget-inget. Jalanin aja masa sekarang.” Uhm, serius banget ya omonganku.
“He’em. Itu Ringgo sama Pandu ya?”
Aku ikutan nengok kearah yang dituju Mita.
“Iya kayaknya.”
“Kok lama si Nggo!!” Mita bertanya sama sang pacar. Well, emang lama sih. Sampe esku sudah abis.
“Maaf. Tadi ngobrol dulu sama Pak Kumis.” Jelas Ringgo.
“Pak Kumis? Uch, jadi kangen sama Pak Kumis nich.” Aku motong pembicaraan sepasang kekasih.
“Pulang sekarang?” Tanya Pandu.
“Iya. Sudah jam segini. Ntar aku diomelin ibu lagi.” Jawabku panjang lebar.
“Halah, ngomong aja gara-gara es kamu sudah abis.” Ejek Pandu.
“Weeekkk”
Akhirnya kami berempat pulang dengan mobil Ringgo. Lumayan lah, uang transport masuk uang saku. Uhm, tapi kok si Pandu ikutan juga ya. Motornya dimasukin tas apa? Apa jangan-jangan itu motor pinjaman ya. Uhm, masa iya. Dasarnya aku yang imajinasinya melewati batas.
“Kamu nggak naik motor Ndu?” Tanya aku ingin tahu.
“Nggak. Tadi pagi aku bareng Ringgo coz motorku lagi diservice.”
“Ndu?”
“Apa?”
“Kamu jelek banget ya!!”
Bilang aja kalo aku ini cakep banget. Gitu aja malu.”
“Geer banget sih…”
“Kalian ini nggak bisa akur ya? Mau diturunin di lapangan?”
“Hehehe. Sabar Nggo… Kan malah enak suasananya.” Mita cengar-cengir disamping Ringgo.
“Enak apaan!!” Aku sama Pandu nyletuk bareng-bareng.