Saat-saat Bahagia
“Selamat pagi Pak Kumis.” Sapa aku
yang emang sudah lama nggak ngobrol-ngobrol sama Pak Kumis. Pak Kumis ini bukan
nama aslinya, nama asli dari Pak Kumis adalah Pak Karyo. Dipanggil Pak Kumis
karena kumis kesayangannya selalu bertengger di wajahnya. Walau Pak Kumis
mempunyai muka yang galak tapi sebenarnya baik hati kok. Kalau nggak baik hati
nggak mungkin dong sekarang aku sengaja nyapa Pak Kumis.
“Selamat pagi Mbak Icha. Kok
pagi-pagi sudah berangkat Mbak?” Balas Pak Kumis.
“Hehehe. Ada urusan sama ketua jurnalis sebelum masuk
kelas.” Jawabku sambil memperlihatkan senyum manisku.
“Mas Raihan ya Mbak?”
“Iya Pak.”
“Wah, sudah ada kemajuan ya Mbak?”
Tanya Pak Kumis lagi.
“Hehehe. Nggak tahu nih Pak.” Aku
malu-malu meong. Pak Kumis emang teman curhat yang enak. Pendengar setia dan
kadang memberi nasihat-nasihat yang membuat aku jauh lebih baik.
“Mbak Icha pantes jadi pacarnya Mas
Raihan. Mas Raihan ganteng, Mbak Icha manis.” Pujian Pak Kumis membuatku
membumbung. Dan juga telah membuat wajahku merah kayak kepiting rebus.
“Maunya sih gitu Pak. Ohya pak,
sudah jam segini nih. Aku ke kelas dulu ya pak. Bapak banyak-banyak doain aku
aja ya. Hehehe.” Aku meminta restu sama Pak Kumis.
“Baik mbak.”
“Ohya, satu lagi Pak.
Kemarin-kemarin waktu aku telat yang jaga nggak Pak Kumis, kayaknya sih satpam
baru. Aku nggak dibolehin masuk, untung dibantuin sama temen. Sampein ke satpam
baru itu ya Pak, jangan pelit-pelit kalau jadi satpam. Hehehe.”
“Oh… Dia namanya Danang mbak. Baik
saya akan sampaikan.”
“Makasih ya pak.”
Aku melenggang senang menuju
kelasku. Semoga saja Kak Raihan sudah menungguku di depan kelas sambil membawa
setangkai bunga mawar di tangannya. Memang khayalanku ketinggian. Tapi nggak
apa-apa ah. Mengkhayal adalah hal yang menyenangkan dan nggak dilarang.
Aku jadi inget kejadian tadi malem.
Habis makan malem sama keluarga, aku menuju ke kamar buat menyiapkan keperluan
besok di sekolah. Tapi tiba-tiba hpku bunyi, setelah aku lihat ternyata itu
panggilan dari Kak Raihan. Hampir aja aku lompat-lopat kegirangan.
“Halo, assalamualaikum.” Sapa aku.
“Wa’alaikumsalam. Icha ya?”
Jawabnya.
“Iya. Ada apa Kak Raihan?” Aku berusaha untuk tidak
kelihatan senang. Biasa aja dong Cha…
“Lagi apa Cha?”
“Lagi apa ya… Lagi di kamar aja
nih.” Jawabku seadanya.
“Aku nggak ganggukan?”
“Nggak kok Kak. Ada apa ya Kak?”
‘Nggak ada yang penting sih. Cuma
pengen telpon seseorang aja.”
“Oh.... Nggak telpon pacar aja?”
Aduh, ngapain Tanya pacar disaat begini. Kalau sudah punya pacar aku bisa
gantung diri di pohon cabe nih.
“Pacarnya siapa Cha? Aku nggak punya
pacar sudah setengah tahunan kok.” Jawab Raihan. Aku baru tahu kalau setengah
tahun yang lalu Kak Raihan punya pacar. Yaiyalah, itu kan sebelum aku kenal sama Kak Raihan.
“Aku kan nggak tahu Kak. Nggak main keluar Kak?”
“Main keluar? Nggak ah… Ntar masuk
angin, kan
dingin Cha.” Kak Raihan doyan juga bercanda.
“Hehehe. Kayak anak kecil banget
takut masuk angin.” Pura-pura ejekku.
“Emang nih. Macih kecil Kak Icha.”
Kak Raihan pura-pura niruin suara anak kecil.
“Hahaha. Emang nih, baru tahu aku
kalau Kak Raihan lucu juga.”
“Baru tahu ya… Apa mau tahu lebih
banyak?” Kak Raihan beneran nggak nih. Kayak ngajakin lebih deket aja.
“Boleh-boleh.”
“Jadi temenku mau nggak Cha? Kalau
mau berarti jangan panggil aku dengan Kak lagi. Tapi cukup dengan Raihan.”
“Uhm, mau sih jadi temennya Kak… Eh,
Raihan.” Bingung kan
jadinya.
“Siiiiippp. Besok jam setengah tujuh
aku ke kelasmu ya. Dagh…”
Tut.. Tut.. Tut.. Hpnya sudah mati.
Dan aku masih bengong dengan semua yang terjadi. Bener nggak sih? Besok dia
beneran mau dateng ke kelas jam setengah tujuh? Apa aku cuma dikerjain ya?
Pusing.
Dan sekarang aku ditemanin langkahku
menuju kelas. Sekolah masih sepi. Baru ada beberapa orang yang datang. Setelah
nyampe kelas. Doeng, belum ada satu nyawapun disini. Kalau ada lomba berarti
aku juara satu dong. sayangnya nggak ada. Huuff.
Aku naruh tas dan menuju keluar
kelas. Mending aku duduk-duduk di pinggir lapangan masih bisa kena angin segar
dan dinginnya pagi ini.
“Icha, maaf telat.” Kak Raihan
terengah-engah.
“Nggak apa-apa. Kak Raihan habis
lari?” Tanyaku.
“Kak?”
“Upz, maksudku Raihan.” Aku salah
tingkah.
“Belum terbiasa ya… Latihan terus
ya..” Dia duduk disebelahku.
“Ada apa kok mau ketemuan?” Tanya aku
penasaran.
“Ini.” Dia memberi sebuah jilidan
buku padaku.
“Apa nih?” Rasa penasaranku
bertambah.
“Novel. Sebelum aku daftarin ke
penerbit, aku mau kamu yang baca dulu.” Jawabnya dengan senyum yang nggak
hilang dari wajahnya.
“Aku yang baca? Nggak apa-apa nih?”
Aku masih bengong. Aku merasa tersanjung dengan perlakuan ini.
“Iya. Kamu kan punya kritik dan saran yang oke buat
orang lain, jadi aku pengen setelah kamu baca novelku kamu ngasih tahu aku apa
yang kurang dari novelku ini.”
“Oh… gitu. Aku merasa tersanjung nih
Rai.” Sudah mulai terbiasa.
“Hehehe… Makasih ya kamu sudah mau
jadi temen plus bantuin aku soal novel ini.”
“Itu gunanya temenkan?” Aku sok tua
sambil nyengir.
“Iya. Kamu kalo ada apa-apa dan
perlu bantuan ngomong aja sama aku ya…” Raihan sudah mulai banyak bicara sama
aku. Dan tandanya sekarang kita sudah mulai deket.
“Siiaapp Pak.” Aku memberi hormat sama Raihan.
“Aku balik ke kelas dulu ya.. Sudah
mau masuk. Dadah Icha…” Dia mengucel-ucel rambutku dan berlalu.
Aku kembali ke kelas sambil
senyum-senyum sendiri. Hari ini adalah saat-saat bahagia buat aku. Dan kayaknya
ada Mita yang ngawasin dari pintu kelas kita. Setelah sampai kelas mungkin akan
banyak pertanyaan dari Mita untukku.
“Icha, tadi kamu ngobrol sama Kak
Raihan di pinggir lapangan basket ya?” Tanya si Mita yang kayaknya penasaran
banget.
“Iya.” Jawabku singkat coz aku masih
terbuai dengan lamunan terindahku.
“Kok bisa sih?” Mita tambah
penasaran.
“Bisa. Aku sekarang jadi temennya
Mit. Dan ini adalah novelnya yang akan aku baca dan ngasih masukan sama dia.”
Aku sudah di alam nyata dan nggak mau temenku yang satu ini ntar belajar dengan
masih penasaran sama aku.
Tet… Tet… Tet… Bel berbunyi.
“Cha! Ntar istirahat pokoknya cerita
lho… Awas kalo nggak.” Ancaman Mita malah buat aku tambah tersenyum lebar.
“Penasaran ya? Hehehe.”
Tet… Tet… Tet… Bel istirahat bunyi.
Waktunya konverensi pers nih.
“Ayo ke kantin.” Tanganku digeret
Mita dengan paksa. Cewek ini kalau sudah ada maunya ternyata bisa seberingas
ini ya… CkCkCkCk…
“Sabar non.” Aku pasrah dibawa
kemana aja sama Mita.
“Cepetan. Sudah ditunggu Ringgo sama
Pandu.” Mita yang biasanya sabar jadi kayak gini.
“Kamu kelaperan, kangen sama Ringgo
apa mau tanya soal aku
tadi sih?” Aku jadi penasaran sama temenku ini.
“Semuanya Icha. Komplit deh
pokoknya.”
“Wew, pantes aja.”
Akhirnya nyampe juga di kantin.
Pergelangan tanganku yang ditarik Mita jadi merah gara-gara nih cewek.
“Mit, tanganku merah nih kamu
tarik-tarik.” Rengek aku sambil manyun-manyun.
“Hehehe. Iya. Maaf ya Cha.” Jawab
Mita yang kayaknya sudah kembali jadi Mita yang manis.
“Pokoknya aku ditraktir bakso. Nggak
mau tahu.” Aku pura-pura ngambek. Tapi ngambek-ngambek kok minta bakso ya…
“Iya-iya.” Mita setuju dengan
kesepakatan ini.
“Ada apa Mit? Icha kenapa?” Tanya Pandu sambil
lihat-lihat aku dari bawah sampe atas.
“Iya. Ada apa
Mit? Kok cepet banget nyampe kantinnya. Biasanya aku dulu yang nyampe
coz kelasmu jauh dari kantin.” Ringgo juga penasaran karena ulah Mita.
“Aku aja yang jawab.” Aku nggak mau Mita
ntar malah mendramatisir keadaan.
“Aku tadi ngobrol sama Kak Raihan.
Dan dikasih novel buat aku baca coz dia butuh masukan sebelum novelnya dikirim
ke penerbit. Cuma itu doang
kok.” Aku mengakhiri klarifikasi.
“Wah, semakin deket nih Cha?” Ringgo
dengan pertanyaan pertamanya.
“Iya. Sekarang kami jadi temen. Dan
aku juga cukup panggil namanya dengan Raihan doang.” Aku nyengir-nyengir sambil memberi
penjelasan.
“Cuma gitu doang aja heboh.” Pandu
berhasil membuat aku jengkel. Tapi aku biarin aja ah. Kesenanganku nggak bisa
dirusak ole si kecoak Pandu.
“Tapi ini kemajuan lho Ndu…” Mita
ngebelain aku.
“Iya. Sudah setengah tahun Icha
kesemsem sama Raihan. Dan baru kali ini Raihan deketin Icha dengan kesadarannya
sendiri.”
“Rahian beduwa hemang hahu hehaaaanku. Tapi huat kamu hawas ya kolo
husak kehenanganhu.” Aku ngomong sambil makan jadi kelihatannya aneh.
“Ditelen dulu tuh bakso baru
ngomong. Weeekk.” Pandu emang hobi gangguin aku.
“Biayin.” Baksonya belum abis di
mulutku.
“Jangan kegeeran dulu.” Pandu pergi
dari tempat duduk kita.
“Mau kemana Ndu?” Tanya Ringgo.
“Ke kelas.”
“Nggo, Pandu kenapa ya?” Tanya Mita.
Ringgo cuma geleng-geleng kepala
tanda kalau dia nggak tahu apa-apa.
“Dia suka sama kamu kali Cha!! Dia
cemburu gara-gara ceritamu.” Mita menerka-nerka kenapa Pandu tiba-tiba balik
kelas ninggalin kita.
“Nggak mungkin lah Mit. Tahu sendiri
kan dia
jahilnya setengah mati sama aku kok. Suka dari hongkong?” Jawabku. Dan kali ini
baksonya sudah habis jadi ngomongnya nggak belepotan lagi.
“Tapi bisa jadi lho Cha!!” Sanggah
pacarnya Mita si Ringgo.
“Mit, balik ke kelas yuk? Tapi
jangan lupa bayarin baksoku ya…” Aku ngibrit ke kelas. Nggak mau ngomongin hal
yang nggak mungkin kayak tadi.
Akhirnya semua pelajaran terlewati
juga. Aku sudah nggak sabar pulang terus makan yang banyak terus baca novelnya
Raihan sampe malem. Besok nggak ada PR lagi. Emang hari ini waktu yang tepat
buat baca tuh novel.
“Cha!! Tunggu!!” Suara Pandu
terdengar tapi sosoknya belum kelihatan. Ternyata dia lari-larian menujuku.
“Ada apa Ndu? Aku harus cepet pulang nih.”
Jelasku.
“Oh… Ya sudah. Aku nggak ganggu deh.
Sory.” Dia berbalik arah dan jalan menjauh.
Pandu kok nggak kayak biasanya ya…
Dia jadi muram. Hari ini aku ketemu dia Cuma di kantin tadi sih. Baru kelihatan
kalau lagi ada masalah.
“Ndu!!” sapa aku sebelum
pandangannya lenyap dari mataku. Dia menoleh kearahku.
“Ada waktu kok. Tapi anterin pulang ya.” Aku
ngasih senyumanku yang paling manis buat dia. Biar dia ikutan senyum. Tapi
kayaknya nggak mempan.
“Makasih.” Jawabnya singkat tapi
berbalik lagi menuju arahku.
“Mau ngobrol dimana Ndu?” Tanyaku.
“Mau ke rumahku nggak?” Pandu ngajak
dengan tampang serius.
“Lho!! Nggak di cafe aja?” Tanyaku
lagi.
“Enak aja nraktir kamu di cafe. Di
rumah aja bisa gratis kok. Aku juga mau ngobrol banyak sama kamu. Mau nggak?
Rumahku rame kok, tenang aja.” Orang ini lagi ada masalah tapi tetep aja ada
waktu buat jahilin aku. Kayak sudah ada jadwal ngejahilin aku aja.
“Iya iya. Tapi awas kalau
macem-macem. Aku punya macem-macem silet di tasku.” Jelasku dengan pasang muka
waspada. Kayak mau perang aja bawa-bawa silet. Mau perang atau mau
nyukur bulu kaki??hahaha
“Nggak doyan sama kamu non.” Dia
sedikit nyengir sama aku.
“Alhamdulillah.” Aku senyum lebar
karena lega. Lega apaan? Aku sudah tahu kok dia nggak doyan aku.
“Ya udah. Sekarang aja yuk.” Dia
narik tanganku buat pulang. Eh, buat menuju ke rumahnya. Coz dari siang sampe
sore mungkin aku dikontrak buat dengerin omongannya dia. Asal dikasih makan aku
ya mau-mau aja.
Motornya Pandu yang membawa kami
berdua melaju dijalanan dan ternyata rumahnya cukup jauh. Setelah kira-kira
setengah jam kami duduk di motor dalam keheningan, motor itu berhenti di sebuah
rumah yang mewah. Rumah yang terlihat gagah dari luar. Gerbang yang
mengellilinginya menjulang tinggi. Rumahnya Pandu ternyata elit juga. Setelah
gerbang dibuka sama seorang satpam dan kami masuk, aku melihat keindahan yang
telah tertutupi gerbang yang nggak terlihat dari luar. Taman
dengan tatanan pohon dan bunga yang sangat rapi, ditambah dengan batu-batuan
dan tempat duduk taman, taman itu terlihat sangat indah dan sangat menggoda
mata untuk melihatnya.
“Turun Cha!! Sudah sampe nih.” Dalam
hatiku aku bilang aku juga sudah tahu Ndu. Masa kamu masuk rumah tetangga kamu.
“Iya. Taman
kamu bagus ya Ndu?”
“Mama dan adikku yang suka sama
taman.” Dia masih muram. Apa masalahnya ya.
“Iya. Kalau kamu yang rawat nggak
bakalan jadi kayak gini Ndu.” Aku mencoba dengan satu gurauan.
“Iya. Tapi sekarang aku akan
kehilangan dua-duanya.” Jawab Pandu.
Aku bingung dengan apa yang
dikatakannya. Dia mempersilahkan aku masuk dan duduk di taman belakang rumah.
Di sini aku melihat taman yang lebih indah dua kali lipat dari taman yang di
depan. Yang aku suka di sini ada kolam renangnya. Di sudut taman juga ada
ayunan kayak jaman dulu. Ayunan ban yang sering aku mainin waktu kecil.
“Kamu duduk di sini aja ya Cha!!
Biar lebih santai. Kamu mau minum apa?”
“Terserah kamu Ndu. Yang penting
dingin ya, kalau ada makanan juga boleh. Sudah laper nih soalnya.” Aku jujur
dari hatiku yang paling dalam.
“Itu mah bukan terserah aku Cha!!
Itu mah emang maunya kamu. Ya udah tunggu ya…” Dia berlalu. Paling juga nyuruh
penbantu buatin semuanya. Aku yakin dia juga laper kayak aku. So, jangan
sungkan-sungkan anggap aja rumah sendiri.
Setelah sekian lama aku menunggu
dengan kehausan dan keroncongan. Akhirnya si Pandu datang juga dengan membawa
dua gelas minuman. Yang satu diberikan padaku. Dalam hatiku mana makanannya ya.
“Makanannya bentar lagi. Lagi
dipanasin si mbok.” Kayaknya dia tahu apa yang aku tanyakan dalam hatiku.
Hehehe.
“Oh…”
“Masih bisa nahan lima belas menitankan?” ejekan Pandu sudah
dimulai.
“Bisalah. Ohya Ndu, mau ngomong apa?
Kok si Ringgo dan Mita nggak diajak juga?” Aku masih penasaran soal ini.
“Nggak suka cerita soal ini sama
banyak orang. Dan kamu tahu kenapa aku milih kamu buat cerita?” Pandu membuatku
jadi tambah penasaran.
“Kenapa? Bukannya aku sama kayak
mereka? Sahabatmu?” Tanya aku lagi.
“Kamu special Cha!! Kamu idola aku
waktu SD dan SMP.”
“Apa? Idola? Maksudnya gimana sih?
Kamu dah mulai buat aku bingung.” Aku garuk-garuk kepala pertanda kebingunganku
sudah lebih dari yang biasanya.
“Inget waktu SD? Kamu punya temen
yang namanya Ambo?” Tanya Pandu.
“Ambo? Ya ingetlah. Dia yang selalu
jadi temen main basket aku. Dia selalu kalah sama aku coz dia lebih kecil dari
aku. Dia cowok imut.” Jelasku.
“Aku Ambo. Nama kecil aku Ambo.”
Pandu buat aku terbelalak. Ceritanya dia ternyata ada hubungannya dengan aku.
“Kamu Ambo? Kok nggak ngomong dari
awal? Makanya aku kayak
sudah pernah lihat kamu. Kamu berubah ya.....” Aku sudah mulai bisa mengendalikan
kekagetanku.
“Iya. Coz setelah pindah sekolah dan
jauh dari kamu, kamu jadi cambuk buat aku. Aku jadi seperti sekarang karena
kamu Cha!! Aku suka dan jago basket juga karena kamu Cha!!” Pandu ternyata
masih ingat sama aku.
“Sampe kamu pindah ke sekolahan kita
gara-gara aku?” Tanya aku lagi.
“Geer banget sih Cha!! Ya nggak lah.
Aku masuk sekolahan kita coz aku mau jadi tim intinya. Tim basket sekolah kita kan tangguh. Dan aku
nggak nyangka kalau kita ketemu di gerbang sekolah. Dan aku nggak nyangka kalau
kita ketemu di gerbang sekolah pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah
ini.”
“Wow, ini kejutan yang bagus Ndu!!
Aku seneng kita bisa temenan lagi.” Aku seneng Pandu jujur sama aku. Dan ini
akan mempererat pesahabatan kita.
“Kamu seneng banget ya Cha!! Sampe
nggak laper lagi.” Pandu mulai lagi bercandanya.
“Kalau soal laper sih tetep Ndu. Nih
cacing-cacing di perutku sudah mulai menari-nari.”
“Yuk, makan… sudah siap di meja
makan tuh.” Ajak sang tuan rumah menuju makanan yang bisa membuatku ngiler.
“Ayuk-ayuk aja. Ohya Ndu, dari tadi
kamu manyun terus tuh cuma
pengen godain aku doang ya?” Tanya aku lagi. Pandu Cuma menjawab dengan
senyuman. Ehm, baru kali ini di dalam senyumannya membuatku diam seribu bahasa.
Nggak tahu kenapa. Senyumnya beda seperti biasanya. Bukan senyuman jahil yang
biasanya mengiringi celotehnya.
Setelah makan di rumahnya Pandu, aku
di anter pulang sama dia. Aku lega nggak ada apa-apa yang terjadi sama dia.
Ternyata dia cuma acting sebelum memberi tahu yang sebenarnya. Aku makasih
banyak sama Tuhan sudah mengembalikan sahabatku yang hilang selama lima tahun ini.
“Makasih ya Ndu… Makanannya mbokmu
enak lho.” Puji aku setelah kami sampe depan rumahku.
“Tentu. Mbokku tuh juaranya masak satu RT di kompleks rumah. Hehehe.” Dia
terlihat lebih ceria.
“Nggak mampir? Masakan ibuku juga
nggak kalah kok. Ibu juga pasti seneng kalau kamu ternyata Ambo.” Aku
mempersilahkan dia masuk ke rumah.
“Sudah kenyang Cha. Masa kamu nggak
kenyang? Kapan-kapan aja ya. Aku langsung aja.” Pandu pamit.
Aku hari ini capek banget. nyampe
rumah aja jam lima
sore. Untungnya besok nggak ada PR. Jadi setelah makan malam ntar aku bisa
langsung tidur. gendut-gendut deh badanku. Novelnya Raihan apa kabarnya ya.
Kapan aku mau baca. Hari ini aku sudah capek banget. masih ada waktu sebelum
diminta Raihan.
“Icha, tadi siang kok sampe sore
kemana aja?” Tanya ibu waktu makan malam.
“Ohya, sampe lupa ijin sama ibu.
Maaf ya Bu. Tadi ke rumahnya temen. Ibu tahu Ambo temen Icha waktu SD kan?” jelasku sambil
melahap hidangan di meja makan.
“Ambo? Bukannya dia pindah ke semarang ya Cha?” Tanya
ibu lagi.
“Sekarang dia dah balik ke Jakarta kok Bu. Nggak
nyangka kita satu sekolah.”
“Ya udah. Tadi ibu khawatir banget
lho Cha… Lain kali telpon ya kalau pulangnya telat.
“Ciiiaaapp Bu… Kalau nggak lupa ya…
Hehehe.”
Akhirnya makan malam selesai.
Waktunya istirahat di kamar. Aku mau nyiapin buku buat besok dulu deh biar
nggak repot besok pagi. Setelah aku nyiapin buku pelaran, hp-ku ternyata bunyi.
Dan itu tandanya ada sms masuk. Maklumlah anak SMA, sukanya sms biat irit uang
saku. Aku buka sms yang masuk, dan ternyata itu sms dari Kak Raihan.
Gimana Cha novelnya?
Bagus nggak? Ringgo.
Aduh, sudah ditanyain soal novel
lagi. Padahal ngasihnya baru tadi pagi. Aku bales yang jujur aja deh.
Maaf kak…
Aku belum sempet baca coz tadi ada
perlu di rumah temen.
Sekali lagi maaf ya…
Setelah beberapa lama ada juga
balesan dari smsku. Aku takut dia tersinggung.
Kok panggilnya Kak sih?
Kan tadi pagi dah janji… ^_^
Iya gpp kok, nyantai aja.
Bacanya kalau kamu luang aja.
Sudah malem nih, gud nite y…
Met bobo’
Wah, mimpi apa ya aku semalam? Hari
ini adalah hari yang sangat indah. Aku di deketin sama gebetanku, aku juga
nemuin kembali sahabatku yang hilang yang ternyata selama ini dia disampingku.
Kayaknya malam ini aku akan mimpi indah deh.